Sejak kapan kita mengakrabi tumbler?

Kehebohan tumbler ketinggalan di KRL menguak gaya hidup bawa wadah minuman dari rumah.

▒ Lama baca 2 menit

Kasus tumbler hilang di kereta api yang menghebohkan — Blogombal.com

Topik hangat pekan ini adalah tumbler. Orang kehilangan tumbler dalam KRL dan kasusnya berekor panjang, buih perbincangan dan olok-olok tentangnya memenuhi media sosial, kemudian media berita mencomotnya. Soal sepele menjadi berkepanjangan. Itulah keajaiban dan faedah media sosial. Tentu dengan catatan: berita Jakarta-sentris, atau Pulau Jawa-sentris, lebih mudah menasional.

Mungkin topik tumbler menyaingi bencana hidrometeorologi di sebagian Aceh, Sumut, dan Sumbar pekan ini. Bahkan dalam beberapa grup WhatsApp, ada saja hal yang dipertautkan dengan tumbler. Misalnya saat seorang anggota grup mengatakan sedang di Stasiun Gambir, ada yang berkomentar, “Ati-ati, tumbler jangan sampe ilang.”

Bagi saya ada yang menarik soal tumbler ini. Saya belum dapat memastikan sejak kapan kita akrab dengan tumbler sebagai istilah dan benda, termasuk dalam kepemilikan.

Saya ingat sekira delapan tahun silam seseorang yang sebaya saya mengingatkan sejawatnya, seorang cewek dari gerbong akhir generasi milenial, “Itu botolmu ketinggalan di pantry.”

Kasus tumbler hilang di kereta api yang menghebohkan — Blogombal.com

Si pemilik barang mengoreksi, “Itu tumbler, bukan botol, Mas.” Orang lain yang sebaya penegur melipur teman sekaum, “Untung sampean nggak bilang gendul, bakal ada yang ngambilin tolèr buat ngisi.” Gendul dan tolèr adalah istilah Jawa lawasan. Artinya botol dan selang.

Lain waktu saya yang terantuk soal bahasa. Saya menyebut tumbler yang bisa menyimpan air dingin atau panas sebagai termos. Langsung seseorang menyergah, “Tumbler, bukan termos. Jadul amat sih.”

 Asal mula kata termos dari merek Thermos — Blogombal.com

Sebelum marak istilah tumbler, istri saya biasa membawa termos kecil berisi teh panas ke tempat kerja maupun dalam perjalanan ke luar kota. Maka saya pun menyebutnya termos. Tentang termos, dari jenama Thermos, saya pernah membahasnya pada 2021 dengan memotret barang yang ada di rumah.

Saya juga pernah menulis tentang ketersediaan suku cadang termos, berupa gabus terbalut lain, di lokapasar. Hanya termos jadul dengan kulit logam yang mudah berkarat yang memiliki tutup gabus berkain. Di situ saya mengenang:

Informasi penting tentang termos saya baca saat kelas tiga empat SD, dari majalah anak-anak. Untuk mengecek apakah tabung kaca sudah retak, tempelkanlah telinga pada mulut termos. Jika berdengung, karena perbedaan tekanan udara, berarti tabung belum retak. Saya membuktikannya di toko. Babah penjual cemberut.

Kasus tumbler hilang di kereta api yang menghebohkan — Blogombal.com

Masih menyangkut bahasa, secara lisan saya tetap melafalkan tam-blêr, karena kebiasaan dan ingin aman secara sosial, padahal KBBI sudah menyerap tumbler, dilafalkan seperti yang tertulis.

Perihal ke luar rumah membawa minuman pernah saya ceritakan bahwa saya melakukannya saat TK, lalu setelah masuk SD dan seterusnya malu, namun akhirnya saya ulangi saat bekerja — tetapi air putih lebih sering saya beli di jalan karena diet plastik belum membahana.

Kasus tumbler hilang di kereta api yang menghebohkan — Blogombal.com

Hal ini berbeda dari anak-anak saya, sejak TK hingga bekerja membawa air minum dari rumah, bahkan di kantornya mereka mengisi botol maupun tumblernya sebelum pulang. Saya yakin belanja galon kantor sekarang lebih banyak daripada masa awal saya bekerja karena kini banyak karyawan memanfaatkan dispenser sebelum pulang.

Bahkan saya yakin belanja galon kantor hari ini, dengan jumlah karyawan sama, lebih banyak daripada saat saya setiap bulan, sebagai kepala kantor, likuran tahun silam, harus menandatangani invoice galon. Hanya selama WFH Covid-19 dulu belanja galon turun.

Ya, ini soal haus dan anjuran kesehatan agar orang banyak minum. Untuk minum butuh wadah karena di sini tak ada drinking fountain yang layak, bahkan semua hotel menyediakan air minum kemasan dalam kamar karena air keran tak layak minum. Untuk wadah ya botol, termos, tumbler, atau kantong plastik ditancapi sedotan. Kalau termos eh tumbler Stanley 1913 bisa Rp1 juta lebih.

Adakah tap water layak minum di area publik Indonesia? — Blogombal.com

Lalu kembali ke soal asal, sejak kapan kita akrab dengan istilah tumbler dan memilikinya? Silakan cari arsip dalam media sosial, lebih bagus yang ada fotonya, dan iklan. Saya malas melakukannya.

Tentang tumbler cap Botol, jenama dari Inggris, tetapi buatan Cina, yang saya foto ini adalah arsip jepretan 15 Oktober lalu, di toko elektronik kampung di area saya, saat saya membeli bohlam.

Kasus tumbler hilang di kereta api yang menghebohkan — Blogombal.com

9 Comments

Junianto Sabtu 6 Desember 2025 ~ 11.09 Reply

Saya tidak pernah akrab dengan tumbler meski di rumah ada lebih dari satu — hadiah, bukan hasil membeli. Entah kenapa saya tidak suka makai tumbler untuk wadah air putih, pilih Aqua botolan maupun merek-merek lain.

Setahu saya istri dan anak ragil cowok saya juga enggak pernah makai tumbler.

Pemilik Blog Sabtu 6 Desember 2025 ~ 13.37 Reply

Hidup gendooollll! 😂

Badu Rabu 3 Desember 2025 ~ 08.56 Reply

Sampai sekarang saya masih kelu memakai istilah tumbler untuk gendul banyu karena kedengerannya mirip banget dengan Tumblr yg platform socmed itu 😅 Mas Tyo pernah ngeblog di Tumblr juga nggak Mas?

Pemilik Blog Kamis 4 Desember 2025 ~ 17.27 Reply

Saya malah kebawa saat menulis 🫢

@sandalian Senin 1 Desember 2025 ~ 09.49 Reply

Jaman SD dulu di tempat kami nyebutnya gembes, seringnya diisi dengan teh manis hangat. Entah kenapa bawa bekal air putih waktu itu kurang lazim.

Pemilik Blog Senin 1 Desember 2025 ~ 11.32 Reply

Kita dulu kurang asupan air putih 😇
Gêmbès dari aluminium, bentuknya botol gepeng melengkung, supaya bisa ditaruh di pinggang samping. Gêmbès yang kita kenal dulu adalah standar militer.

mpokb Minggu 30 November 2025 ~ 02.22 Reply

Lucu merek Inggris kok Botol, apa target marketnya Indonesia? 😁
Btw saya mengenal kata tumbler waktu masih ada Tupperware, Bang Paman. Tepatnya gelas plastik warna-warni bertutup yg sejuta umat itu..

Oh iya, dulu waktu kantor saya pindah ke gedung baru, perusahaan nggak langganan air galonan lagi, karena air minumnya pakai air tanah yg dipompa dan difilter. Secara rutin ada petugas yg datang membersihkan filternya, tapi ada saja karyawan yg ogah minum air itu 😃

Pemilik Blog Minggu 30 November 2025 ~ 20.36 Reply

Botol menyasar pasar global.
Suwun Mbak Mpok, sdh ingatkan saya ttg Tupperware yang bikin tumbler. 🙏💐

Pemilik Blog Senin 1 Desember 2025 ~ 07.32 Reply

Dulu ada dispenser galon filter bikinan Unilever atau apa itu ya, saya beli tapi gak yakin hasilnya, akhirnya dispenser diminta tetangga.

Sekian belas tahun silam saya ke pabrik Coca-Cola di Cibitung, Mbak PR bilang airnya dari Kalimalang, sudah diproses sehingga bisa buat minuman. Lha itu kan pake instalasi raksasa, terkontrol, ya bisa. Kalo pake dispenser kecil kok saya kurang yakin.

Tapi ada kit portable buat relawan bencana dan tim SAR, serta peramban gua, untuk memurnikan air, diakui internasional, saya lupa mereknya, di Indonesia juga dijual. Berarti pake alat kecil bisa ya.

Tinggalkan Balasan