—
Yang terbaru terjadi di Sumut Aceh, dan Sumbar. Sebelumnya di Jatim. Banjir besar. Tanah longsor. Yang terbaru ini dahsyat. Mungkin ada yang bilang, di Singapura, Arab Saudi, dan Emirat Arab juga bisa banjir. Di Jepang, Amerika, dan Eropa juga. Lalu orang berdebat soal mitigasi dan rencana kontigensi.
Jika rakyat hanya bertanya mungkin akan dianggap naif bahkan bodoh, karena 88 persen keluarga di Indonesia tak dikepalai tamatan S1. Berbeda dari pejabat dan wakil rakyat, sejak kampanye pun sudah pamer gelar, bukan cuma S1 tetapi juga S2 bahkan S3. Gelar selalu ditulis dalam laman resmi dan disebutkan dalan acara resmi. Gelar mayoritas rakyat cuma S teler, kurang cendekia, pun kurang cerdik.
Pertanyaan itu misalnya, kalau tak ada banjir bandang yang memuntahkan kayu gelondongan berarti tak ada niat untuk mendata kondisi hutan? Karena untuk memastikan apakah batang-batang kayu hasil pembalakan liar ataukah hasil penebangan legal butuh penelitian.

Dalam pikiran rakyat S teler, sudah meningkat karena dulunya hanya S doger, kalau penelitian ditambahi kata “lanjut” mungkin masuk akal. Sebelum lanjut pasti sudah ada data citra satelit untuk memperbandingkan luas vegetasi dari waktu ke waktu, tak hanya di hutan tetapi juga di permukiman.

Lalu rakyat bertanya kenapa gajah pun sampai tersapu air bah, apakah dalam banjir sebelumnya juga pernah? Begitu pun pertanyaan mengapa banyak penduduk yang menjadi korban, apakah sebelumnya pernah, di luar tsunami?
Semoga tak ada jawaban selain janganlah saling menyalahkan maupun marilah kita belajar dari bencana ini. Belajar terus itu baik. Tetapi kalau penguasa hanya mengajak belajar tanpa memulai belajar, hal buruk akan terulang, bahkan bisa lebih buruk.
Semoga pula tak ada jawaban semacam dasar rakyat, selalu gagal paham bahwa mengurus bangsa dan negara itu sulit. Kalau tahu akan sukar kenapa ada saja orang yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat dan kepala daerah, dan tak menolak ketika diangkat jadi menteri dan sebangsanya?
Pertanyaan barusan pasti diajukan oleh orang dari kelompok 88 persen yang kurang cendekia, pun kurang cerdik.



4 Comments
Kita ini bangsa besar, katanya…
Saya waswas dengan Papua yang hutannya mulai digunduli untuk kebun sawit, Bang Paman 🙁
Selain Papua untuk lumbung pangan juga pulau-pulau lain untuk bisnis ekstraktif. Bahkan pulau kecil yang menurut UU nggak boleh ditambang juga ditambang.
Gimana duduk soal, sila tanya doktor tangguh Bahlil
Persoalan ini buat saya hanya bikin sedih dan mengundang emosi.
Lepas dari itu, saya sampai sekarang tidak pernah mencantumkan gelar akademik, bahkan di dokumen seperti kartu keluarga maupun KTP.
Memang menyedihkan dan membuat kita geram.
Apakah kelak pada Seabad Republik Indonesia (2045) lingkungan kita sudah membaik?