↻ Lama baca < 1 menit ↬

Infografik tempe, tahu, kedelai

Produsen tempe dan tahu pekan lalu terkabarkan akan mogok produksi awal pekan ini. Produsen tempe? Istilah yang pas. Pembuat tahu tempe juga pas. Perajin? Banyak media memakai istilah perajin dan pengrajin. Info dari pemerintah daerah juga menyukai kedua istilah tadi.

Jadi ada dua masalah: ekonomi dan bahasa. Masalah ekonomi tentu lebih wigati, berhulu pada pasokan kedelai sehingga harga kedelai sebagai bahan baku tempe, tahu, dan kecap mahal. Pada 2019 harga kedelai Rp7.000/kg, kini Rp14.000/kg. Ada subsidi pemerintah Rp1.000/kg, tetapi akhir bulan ini akan dihapus.

Kedelai kita impor, paling banyak dari Amerika Serikat, sekitar 87 persen (¬ Katadata). Maka untuk pembenci total Amrik di segala bidang, termasuk teknologi Apple yang dibuat di Cina, juga produk Nike, berteriaklah, “Wahai Amrik! Kalian semprul sontoloyo! Kami kadung keranjingan tempe dan tahu!”


Lalu soal bahasa? Istilah perajin sering dipakai karena produksi tempe dianggap menyangkut pekerjaan artisan. Ada soal ke-empu-an. Seperti membuat keris dan minuman anggur.

“Di tempe itu ada mahluk yang hidup, berwujud mikroba, disebut prebiotik. Jadi tidak bisa asal buat. Kalau tidak telaten dan didukung alam, bakteri itu tidak akan tumbuh dan hidup di tempe. Makanya Forum Tempe Indonesia (FTI) menyebutnya pekerjaan seni,” ujar Made Astana selaku Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB yang juga Ketua FTI (¬ Kompas.com).

Anda lebih suka istilah yang mana: perajin, pengrajin, pembuat, pengusaha, atau produsen?

Sila simak salinan arsip Laras Bahasa di Lampung Post.

Produsen tempe kata BBC Indonesia

¬ Infografik: Kompas.id

Harga kedelai naik, tahu dan tempe mengecil

Kali ini tempe tak dibungkus kertas ulangan

Kelas tempe X

Gambar: Memble tempe dan kedelai

Hikayat Bukit Catu dalam bungkus tempe

Belajar bahasa dari kertas bungkus tempe