↻ Lama baca 2 menit ↬

AIR MINUM TAK SAMA DENGAN DRINKING WATER.

Meja petugas informasi dan penitipan barang di Ace Hardware itu menyediakan air kemasan gratis. Siapa pun boleh ambil. Selesai minum, gelas plastik dan sedotannya dicemplungkan ke wadah. Selebihnya bilanglah terima kasih. Tapi kalau minta Coke akan disuruh bayar. Tak apa.

Bukan hal baru memang. Sudah banyak toko melakukannya. Seingat saya, yang memelopori “aqua” gratis itu adalah toko ponsel dan toko audio-video pada tahun 90-an. Toko kain tidak menyediakan, tapi tailor menyajikan. Resto? Menjualnya. Tempat dugem? Pernah menjualnya sangat mahal sebagai pengantar minum racuan keriaan.

Indonesia yang panas, dan membangkitkan dahaga, memang perlu minuman gratis. Yang namanya air minum di sini (termasuk sediaan PDAM) bukanlah drinking water, sehingga semua hotel memasang peringatan, dan sebagai gantinya tersedia dua botol air gratis. Lebih dari itu jadi pos minibar dan silakan bayar.

Memang, air harus membeli. Tapi salahnya berbagi? Maka setiap kali ada kurir datang ke rumah Anda tawarilah air putih gratis. Sebagian besar tak menolak. Tak sedikit yang menggumam, “Alhamdulillah…”

Demikian pula di kantor. Kurir senang jika saat kepanasan ditawari air. Dulu, di sebuah kantor, seorang kurir perusahaan lain memberanikan diri meminta air dari dispenser untuk diisikan ke botolnya. Sang kepala kantor, yang selalu bersedia melayani tamunya (siapa pun mereka) dengan air putih, dengan senang hati mengizinkan.

Di banyak kantor ada saja karyawan yang sebelum pulang mengisi botolnya dengan air dari dispenser. Mungkin hanya juragan kikir yang akan melarangnya.

Kalau karyawan mengambil “aqua” sejeriken, itu keterlaluan. Lebih kebangetan lagi memboyong lima-enam galon stok ke bak double cab pribadi untuk dibawa pulang. Itu namanya kulakan.

Waktu saya masih bocah, dan bermukim di Jalan Banyubiru, Sinoman, Salatiga, di sebelah rumah ada warung kelontong. Pemiliknya bernama Mbah Parto. Seperti beberapa warung lainnya, di halaman selalu ada rak untuk kendi.

Para pelintas boleh minum gratis, dengan mengucurkan mulut kendi ke mulut (bukan ngemut). Isinya? Air sumur. Mentah. Tapi itulah layanan masyarakat oleh masyarakat.

Sekarang setelah pemerintah dari periode ke periode mengklaim kemajuan, saya belum menemukan dispenser dengan keran muncrat untuk umum (bukan sekolah dan sport center). Dalam pilkada mana pun, setahu saya, soal itu tak masuk dalam kampanye. Lebih menarik menjanjikan pendirian pabrik untuk membuka lapangan kerja ketimbang air mentah layak minum.

Syahdan seorang (bekas) preman mau jadi bupati. Tentu dengan ijazah yang didapat dari membeli.

“Saudara-saudara, kita akan bangun pabrik-pabrik! Dari pabrik tusuk gigi sampai pabrik tektil! Bayangkan saudara, tektil! Ini soal sandang! Daerah kita belum punya pabrik tektil!” kata sang kandidat dalam kampanyenya.

Ajudannya membisiki, “Kurang ‘s’, Ndan…”

“Iya betul, Saudara-saudara! Kita akan bikin pabrik es supaya tidak kehausan!” *

*) Guyon lama ini saya sadur dari Ricky Christian Dajoh. Apa kabar, Broer?