
Di blog wagu ini, biasanya tulisan bertolak dari gambar. Bisa berupa foto jepretan sendiri maupun tangkapan layar dari laman web yang saya temui — termasuk iklan. Tentu tak setiap jepretan dan screenshot menghasilkan tulisan. Banyak yang sudah saya tulis, namun terhenti, dan tak dapat saya teruskan. Akhirnya itu semua tertimbun dalam kuburan draf.
Meskipun demikian ada juga pos yang saya tulis dulu baru kemudian memikirkan gambar. Biasanya saya olah sendiri, juga dengan ponsel, misalnya untuk Kamso & Kamsi dan Gambar & Opini. Sempat saya melibatkan hasil AI generatif untuk saya olah, namun entah kenapa akhirnya saya jemu.
Belakangan saya menemukan keasyikan masa kecil dan remaja: menggambar. Saya tak peduli apa penilaian orang, yang penting saya senang melakukannya. Itulah yang saya lakukan untuk Kamso & Kamsi sekarang. Menulis dulu, lalu menggambar untuk ilustrasi tulisan.
Dari enam bersaudara di keluarga — lima laki-laki dan satu perempuan, namun kini anak ibu saya tinggal tiga — sayalah yang tidak bisa menggambar maupun bermain musik. Dua anak di keluarga saya kuliah di seni rupa, satunya lagi diterima di Seni Rupa ITB namun tak dia masuki, lalu satu anak lain kuliah di arsitektur. Mbakyu saya yang belajar ekonomi, sejak remaja pintar menggambar bunga sampai potret. Nilai menggambar saya selama SD–SMA cuma 6–7.
Dengan menggambar lagi, meskipun tetap jelek, apalagi tangan saya kaku karena tak pernah menggambar setelah dewasa, dan tulisan tangan makin buruk karena jari saya dijajah komputer, dan kemudian ponsel, termasuk menulis untuk blog, saya merasa gembira.
Mungkin pongah. Saya merasa coretan saya autentik dan humane. Memang, bagi orang lain, terutama pembaca blog wagu ini, ilustrasi untuk tulisan, termasuk jepretan saya, tidak penting. Namun, lagi-lagi, saya senang memuat coretan dan jepretan saya. Dengan bercanda saya pernah memberi catatan bahwa gambar untuk sebuah pos dibuat dengan kecerdasan buatan tingkat rendah.
Foto jepretan saya untuk ilustrasi di blog ya cuma gitu-gitu aja, apalagi saya menggunakan ponsel low-end, namun saya merasa ada unsur genuine nan personal.
Justru karena tak sebagus ilustrasi hasil akal imitasi maka saya merasa tetap asyik, bisa melihat proses kemunduran kreatif saya jika dibandingkan masa muda. Dengan berkreasi sepenuhnya memanfaatkan AI, saya malah bisa terjebak, merasa makin maju. Saya dapat kehilangan cermin retrospektif.
Maka tadi siang saat ke rumah sakit, saya membawa pensil dan berbekal kertas yang ada sisi kosongnya, buletin gereja tiga pekan lalu. Ternyata berguna.

Saat duduk menunggu, saya menulis untuk Kamso & Kamsi, tentang korupsi sebagai penyakit sosial. Usai menulis, saya menggambar di atas kertas bekas. Hasilnya adalah ilustrasi. Kualitas? Ya gitu deh.
Saya membayangkan jika Pak Tino Sidin, nama yang hanya dikenal generasi boomers dan X, masih hidup dan menerima gambar saya, akan dia berkomentar secara default, “Ini gambar dari si Anu. Baguuuussss….”

4 Comments
Jauh lebih baik daripada saya yg ga ada bakat nggambar sama sekali, paman 😀
Kan tiap orang punya cara untuk menyenangkan diri sendiri. Ada orang bersuara jelek, nada selalu sumbang, tapi suka nyanyi di karaoke. Di luar tempat karaoke dia gak mau karena tahu diri. Tapi selama menyanyi dia hepi dan merasa tambah sehat.
Gambarnya bagus, Bang Paman (Bukan ngikut Pak Tino Sidin, meskipun dulu tiap minggu mantengin acaranya :D)
Terima kasih banyak Mbak Mpok 💐🫣