Masalah literasi orang dewasa

Sebuah unggahan di Instagram mengajak kita becermin di tengah serbuan video medsos.

▒ Lama baca 2 menit

Banyak baca juga ada yang tetap jadi orang membagongkan — Blogombal.com

Beberapa teman saya mengatakan bahwa menonton video pendek maupun panjang itu lebih menyenangkan ketimbang membaca teks di laman web, layar digital, dan buku. Alasannya, sebagai pensiunan mereka punya banyak waktu untuk menonton video dan televisi.

Bahkan sejumlah teman berlatar pekerjaan guru, dosen, dan wartawan, lebih suka menonton video melalui ponsel. Selain video juga gambar berisi teks ringkas. Membaca teks itu melelahkan, kata mereka. Menonton video monolog dan debat di YouTube lebih menghibur.

AI membantu kita belajar

Lebih dari satu teman saya anjurkan untuk memanfaatkan AI, layanan tersebut disuruh membuatkan ringkasan dari sebuah tulisan panjang di laman web.

Ada yang mencoba dan puas, ada yang kurang puas, dan ada pula yang tak berminat karena tetap disuruh membaca. Yang emoh membaca itu juga tak mau mendengarkan teks dibacakan oleh robot, karena tak enak didengar. Wajar, bahasa tulis yang dibaca manusia narator pun sering kali tak enak untuk disimak.

Kalau teks pendek di WhatsApp, orang yang ogah baca ringkasan AI tadi masih mau, asalkan tidak menggunakan kata yang sulit, dan kalimatnya pendek. Layanan AI yang saya maksudkan adalah yang gratis, ada dalam opsi Google Chrome.

Membaca dan menulis itu perlu

Ketika membuat nukilan artikel Yanuar Nugroho kemarin, saya tak memanfaatkan AI. Kenapa?

Sekalian untuk iseng juga, menguji kemampuan saya mencerna teks dan menulis, karena niat saya ngeblog kini memang untuk menyelamatkan diri saya sendiri, supaya tak lekas pikun, dan otak tetap bekerja. Ini seperti mengulangi masa SD, ditugasi guru menceritakan kesan dari sebuah bacaan — bukan meringkas isinya.

Menulis adalah olah benak, belajar menata pikiran. Yang saya lakukan mungkin tak pernah tertata, menjemukan untuk dibaca, bahkan sulit dicerna pembaca. Bahwa ada saja orang yang sudi membaca blog wagu ini maka saya berterima kasih. 🙏💐

Saya tempo hari menulis bahwa membaca dan menonton video itu saling melengkapi. Tetapi belakangan saya tak menonton debat beberapa orang di TV yang diarsipkan di YouTube. Kalau harus melihat bukti ucapan, ya terpaksa saya tonton.

Sudah lama saya tak tertarik debat ngalor ngidul ngétan ngulon ala TV di YouTube karena pendekatan mereka sering kali semata-mata prominensi narasumber, bukan kompetensi, demi trafik. Makin kontroversial makin laku, sesuai tuntutan algoritma.

Kalau percakapan dua orang, seperti dalam kanal Gita Wirjawan maupun Dewa Budjana, saya menontonnya namun sering saya cicil. Sedangkan Bocor Alus Tempo sering saya tonton hingga usai.

Kalau video pendek dalam Kompas.id hampir tak pernah saya tonton. Saya lebih memilih Kompas Brief berupa tulisan dengan butir-butir pokok masalah yang dijabarkan. Video laporan jurnalistik dan dokumenter di YouTube juga saya cicil. Film di Netflix kadang juga demikian.

Banyak baca tapi tetap membagongkan

Adakah jaminan orang yang banyak baca akan genah pikirannya? Lihat saja pemimpin yang punya perpustakaan tertata, di rumahnya yang konon bak puri, nyatanya tetap membuat kebijakan tak masuk akal bahkan melawan hukum dan akal sehat.

Lalu anak buahnya, yang punya perpustakaan pribadi terbesar di Indonesia, sampai dibuatkan gedung khusus, bisa aneh dalam berpikir bahkan membuat keputusan yang nyeleneh jika menyangkut sejarah bangsa.

Sementara orang wicaksana yang mengaku tak banyak baca, dan tak punya perpustakaan dengan rak padat buku, bisa bertutur dengan tertata lagi jernih, tak seperti anggota DPR yang tunjangan komunikasinya bisa memperkaya perpustakaan pribadinya. Para wicaksana itu punya kematangan spiritual, terbiasa berkhalwat. Lebih menep, mengendap.

Tentu itu semua terpulang kepada selera dan kebiasaan setiap orang. Apakah durasi dan volume teks yang saya baca itu panjang dan tebal? Tidak.

Banyak baca juga ada yang tetap jadi orang membagongkan — Blogombal.com

Saya bukan kutu buku maupun penekun teks. Saya hidup bukan hanya untuk itu. Setelah menulis ini saya akan cuci piring dan panci. Sebelum menulis ini saya berbelanja telur ke warung, harga sekilonya Rp32.000. Sebelum ke warung, saya mengembalikan payung yang saya pinjam kemarin malam.

View this post on Instagram

2 Comments

Zam Sabtu 28 Maret 2026 ~ 13.06 Reply

untuk video yutub, ngga semua enak untuk ditonton sampe habis. banyak yg bertele-tele ngga jelas demi durasi agar dapat uang iklan. yang begini biasanya saya minta AI untuk meringkas. AI juga bisa merangkum video.

namun ada beberapa kanal yang story telling-nya bagus, dan juga memberikan informasi. ini saya sering tonton sampe habis.

demikian juga dengan podcast. ngga semua podcast saya tonton. tergantung tamu dan host podcast-nya.

terkait soal kebijaksanaan. mungkin yang banyak baca buku jadi bodoh saat pegang kekuasaan. 🫣

Pemilik Blog Sabtu 28 Maret 2026 ~ 20.28 Reply

Saya biasa sambil buka transkrip yang suka ngaco itu, scroll down. Untung sekarang ada ringkasan 😁

Tinggalkan Balasan