
Berita koran Kompas (Rabu, 18/3/2027) ini menarik. Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengajak anak-anak untuk tetap membaca selama libur Lebaran.
Mu’ti mengatakannya dalam Mudik Asyik Baca Buku (MAAB) di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Selasa (17/3/2026). Selama MAAB (16–17 Maret 2026), Badan Bahasa membagikan 24.000 eksemplar buku gratis di sembilan lokasi keberangkatan pemudik di Jakarta dan Banten.
Kata Mu’ti,
“Kami ingin anak-anak kita lebih banyak memegang buku daripada memegang gawai. Anak-anak jangan lupa, nanti di kereta baca buku. Jangan pegang HP, pegang buku.”
Jangan pegang ponsel? Tak mudah untuk semua rentang usia saat ini. Bahkan balita pun ada yang dipinjami ponsel atau tablet agar tak rewel. Dengan gawai, anak-anak lebih anteng. Orangtuanya juga. Kakek dan neneknya pun demikian.
Konten ponsel dan bacaan
Bagi saya, membaca tak hanya dari barang cetakan bernama buku. Dari gawai juga bisa. Saya menganggap gawai dan kertas saling melengkapi, termasuk jika yang dilihat di layar adalah semua gambar hidup yang bergerak dan bersuara, dari gim hingga video.
Persoalannya, tak ada rumus baku berapa persen durasi membaca kertas maupun melihat layar. Jika menyangkut anak-anak, artinya mereka yang belum berusia 18 tahun, itu tanggung jawab orangtua. Boleh juga ditambah kakek dan neneknya kalau ingin mengintervensi pola asuh terhadap cucu.
Kembali ke soal membaca memang tidak hanya dari buku. Tulisan dalam di luar bus atau kereta juga perlu dibaca. Demikian pula aneka tulisan di bandara.
Waktu anak-anak saya masih kecil, dan si sulung sudah belajar membaca, saya biarkan atau malah saya pancing dia membaca tulisan di luar kendaraan saat kami dalam perjalanan. Misalnya nama toko dan kedai, juga teks besar dalam bilbor.
Adiknya yang belum bisa membaca mulanya kesal namun menjadi terlecut untuk segera dapat membaca.
Eh, tetapi bukankah waktu itu ponsel masih terbatas, hanya untuk menelepon dan ber-SMS-an? Betul. Itulah keuntungan kami dalam latar waktu.
Video dalam ponsel itu berguna
Misalnya dalam era ponsel pintar dan beraneka konten ini anak-anak saya masih TK, saya tak tahu harus bagaimana saja menerapkan aturan berponsel selain jangan menaruh ponsel di sebelah piring saat makan.
Membaca selain dari majalah anak-anak dan buku anak-anak, juga bisa anak dapatkan dari kemasan makanan, mulai dari merek hingga teks informatif lainnya. Selain itu, dulu, juga dari sampul kaset dan CD.
Tentu, setiap keluarga itu autentik. Cara keluarga saya dalam menghidupkan literasi belum tentu sama dengan keluarga lain.
Dalam hal aturan pakai produk misalnya, jika usia anak menurut saya sudah bisa mencerna aturan pakai, saya akan mendorongnya membaca kemasan.
Umpamanya dulu, dalam memperlakukan mi instan siram. Setelah anak tahu, dia akan mengoreksi saudaranya yang merebus mi, seharusnya merebus kuahnya untuk disiramkan ke mi kering — bukan merebus mi dalam kuah.
Kalau masalah mi siram terjadi sekarang, dan anak saya belum tahu, setelah dia membaca aturan pakai akan saya bukakan YouTube.
Kemarin untuk kedua atau ketiga kalinya, saat akan mengganti baterai remote controller mobil saya membuka YouTube. Saya lupa karena jarak antarwaktu ganti baterai itu dua tahun lebih.
Leak dalam baterai, tape bukan tapai
Masa kecil saya kurang bacaan. Menurut perasaan saya begitu. Tetapi minat membaca bisa tumbuh antara lain karena ibu saya membacakan buku cerita, dan mbakyu saya memberi tahu isi buku cerita yang dia pinjam dari tetangga yang memiliki perpustakaan keluarga.
Karena merasa kurang bacaan, saya juga membaca kemasan permen dan kue, sobekan kertas bungkus, baterai yang membuat saya mengira untuk pasar di Bali karena ada teks “leak proof“, dus kecil busi, dan entah apa lagi.
Saya ingat ketika kelas satu SD, sepulang sekolah saya menemukan sobekan karton kecil bergambar suatu alat, ada tulisan “tape” padahal tak bergambar tapai.
Setiba di rumah saya tanyakan arti kertas itu. Ibu menjelaskan, tape dibaca teip, artinya pita. Alat itu untuk merekam suara. Saat itu kami belum punya tape recorder, sulit membayangkan cara kerja alat itu.
Setelah kelas tiga SD saya melihat pemutar reel tape di rumah oom saya. Maka pahamlah saya. Gulungan pita itu serupa yang ada dalam secarik karton yang dulu saya pungut.
Pajanan dunia di luar ponsel
Minat setiap anak berbeda. Pada masa saya bocah, hafal nama bus itu merasa berpengetahuan. Demikian pula hafal nama toko dan rumah makan di pecinan.
Lalu saat ini setelah ada ponsel dengan aneka muatan audio visual bagaimana? Saya tak tahu batas otak manusia dalam menyerap dan mengelola informasi sampai seberapa jauh.
Aksara membantu manusia untuk tak menyiksa benak dengan mengingat. Kemudian akhirnya ada video dalam ponsel yang terus menggulirkan konten tak berhingga, hanya kita hentikan ketika kita mengantuk atau tersela hal lain.
Ada yang bilang, melahap puluhan lebih video pendek tak bagus untuk kesehatan mental. Bahkan video call berlama-lama, dan kerap berganti mitra bincang, dalam sehari itu tak menyehatkan jiwa raga. Saya tak ingin berkomentar dulu.
Lebih menarik membahas ihwal membaca bagi anak. Membaca akan memperkaya pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Orang yang tak suka membaca pun mengakuinya. Tentu, lagi-lagi, tak harus membaca dari buku.
Ada lagi yang wigati. Berada dalam kendaraan bukan sebagai pengemudi, termasuk saat membonceng motor, bisa membuat sebagian orang tenggelam dalam ponselnya. Mereka tak begitu merasakan perubahan dunia sekitar selama perjalanan. Bahkan tak peduli rutenya lewat mana saja.
Sebagian dari kita hanya tertarik dengan suatu atmosfer jika menarik untuk selfie ala Instagram. Untuk menjelaskan tadi berswafoto di mana, ada geotag dalam gambar kalau fitur itu diaktifkan.
Wajar bagi lansia kalau lupa nama tempat, tetapi masa usia belum 50 sudah pikun. Memang sih, fungsi geotag dalam foto supaya kita tak kecapaian mengingat. Ruang simpan dan cip di kepala untuk berpikir, bukan mengingat. Apalagi setelah ada akal imitasi.

4 Comments
jadi ingat ada meme yang bilang, generasi lama, kalo di kamar mandi dan boker, biasanya baca kemasan shampoo..
kalo saya dulu suka bawa majalah atau komik.. sekarang ganti baca di ponsel..
Saya dulu di Jalan Panjang bawa ponsel Ericsson dengan OS Epoc, pendahulu Symbian, main gim kayak Reversi. Beberapa kali tertinggal, ditemukan cleaning service dan diserahkan ke saya.
Tiap kali saya boncengkan naik motor dari sekolah ke rumahnya, cucu saya nomor dua, Mbak Ara (kelas 4 SD), membaca apa saja yang dia lihat di sepanjang jalan dengan nada lucu. Setelah itu kakak sepupunya, Mas Arka (kelas 5), yang juga saya boncengkan, menyahuti dengan nada lucu pula.
Betooollll. Itulah anak-anak dalam menyerap informasi melalui teks. Anak saya dulu juga begitu. Saya sampai tua masih mudah terkesan oleh tulisan di jalan. Blog wagu ini menjadi saksi. 😇