
Kios berlabel Cepat dengan slogan Kopi Kilat, yang bersanding dengan kios tenda es kelapa muda, ini sudah dua bulan lebih beroperasi. Sehabis Lebaran sudah buka. Kios ini hadir mendahului artikel Kompas (23/3/2026), “Perang Kedai Kopi-Teh Tak Lagi soal Rasa, tapi Kecepatan Saji” (versi koran cetak: “Siapa Cepat, Dia Paling Kuat”).
Siapa pun saat mengudap ingin pesanannya terhidangkan dengan lekas. Termasuk untuk gado-gado ulek maupun lotek, kita memesan disertai canda, “Nggak pake lama ya.” Walakin satu cobek besar untuk bikin sekian porsi tetap saja terasa kurang cepat.
Dalam urusan kopi ternyata juga demikian. Sehingga di kedai kopi kita merasa berhak untuk lebih berlama-lama sebagai kompensasi untuk waktu tunggu dan pembayaran pajak restoran plus biaya servis. Padahal kedai modern menggunakan mesin kopi. Namun kita kerap tak sabar.

Menyangkut makanan dan minuman, akhirnya konsumsi dalam ekonomi pasar menjadikan kita makin berjarak dengan proses produksi. Memarahi anak yang membuang nasi dengan mengatakan untuk menjadi beras itu butuh banyak tahap pekerjaan, dan waktu, akan membuat mereka bingung.
Lauk berdaging ayam, sapi, dan ikan tidak tiba-tiba hadir di piring. Semua anak paham. Tetapi bagaimana beternak ayam dan ikan lele, atau menangkap ikan di laut, belum tentu mereka paham.

Saya pun bagian dari mereka yang kurang paham dalam arti menjaga jarak untuk paham pada tahap tertentu. Kalau saya melihat bagaimana ayam disembelih, dan bagaimana ikan segar dimatikan lalu dibersihkan, mungkin saya tak tega makan. Namun kepengecutan saya memberi pengalaman bahwa makan daging mamalia, unggas, dan mina, itu enak. Saya tidak menjadi vegetarian. Saat bersantap di warung Sunda saya tak ingin melihat gurami hidup diserok dari kolam lalu dibunuh.

Saya adalah predator tanggung. Serupa beberapa orang yang memiara lele dan nila ogah mengonsumsi hasil panen. Mereka tak tega. Karena setiap mereka hari berkomunikasi. Adapun saya tak tega makan daging anjing karena menganggap semua anjing adalah teman saya. Terhadap kucing saya juga tak tega misalnya ada hidangan daging meong.
Jarak terhadap proses bisa karena keadaan, dan bisa pula karena kita mengatur jarak. Karena keadaan, saya yang belum pernah melihat panen gandum dan biji gandum impor dicurahkan dari kapal di pelabuhan (¬ “Biji gandum di tengah masalah konten visual media berita“), membuat saya makan roti dan mi tanpa berimajinasi. Serupa saya makan tahu dan tempe tanpa peduli kedelai diimpor dari mana.
Lalu urusan mengonsumsi kopi, dalam kasus saya bagaimana? Saya hanya mendaku penyuka kopi, bukan apresiator kopi, bukan coffee aficionado, karena saya tak paham industri kopi sejak dari kebun seperti halnya Pepeng pemilik Klinik Kopi, dan tak mendalami konsep single origin apalagi fair trade yang beraroma sosialis.
Bagaimana menikmati kopi dengan cepat, meminumnya juga dengan singkat, tetapi tidak untuk kopi anyes, mungkin akan membuat kita makin berjarak dengan proses. Info tentang proses hanyalah pelengkap pengetahuan umum dangkal. Serupa saya makan lamian tanpa obrolan di meja, tanpa menghayati rasa, langsung habis, padahal melihat bagaimana dari adonan tepung ditepuk, dibanting, lalu dipotong dengan jari sehingga menjadi lembar demi lembar ciut panjang mi.

Serba-cepat dalam mendapatkan minuman kopi, secara lebih lekas daripada menggiling sendiri lalu memanfaatkan French press atau membuat V60, atau malah membuat cold brew untuk dinikmati besok, apakah memberi kita kesempatan untuk memikirkan nasib kebun kopi dan biji kopi — dan tentu petani kopi?
Video lama Ferry Irwandi, yang saya comot dalam “Unsur Indonesia dalam kopi Nordik cap Moomin” (2025), membuat kita berpikir, tetapi mungkin malah berpikir dalam bentuk peduli amat urusan entar tahun 2050, yang penting hari ini kita ngopi. Hidup udah pahit, masa minum kopi tanpa gula, pakai mikir macem-macem pula. Lebih penting berswafoto sedang menikmati kopi di kedai cozy untuk dibagikan, menunjukkan bahwa kita adalah orang bergaya hidup masa kini. Aku punya selfie ngopi maka aku ada.

2 Comments
ngomong-omong soal kopi, saya jadi ingat kalo inflasi bisa saya ukur dari harga kopi 500 gram.
saat sebelum pandemi, hargnya sekitar 2-3€.. kemudian bertahap naik ke 4€, 5€, 6€, 7€, dan kemarin saya terbelalak saat melihat harganya hampir 10€..
padahal kopi industrial biasa di supermarket, bukan yang special atau dari kedai kopi..
Aha! Padahal bukan kopi yang disebut sebagai artisan ya, Zam 😁