—
Jika menyangkut hikmah, banjir dan tanah longsor terutama di Sumut, Aceh, dan Sumbar adalah kesempatan bagi guru untuk mengajak murid mendiskusikan masalah lingkungan.

Tentu bahasan disesuaikan dengan jenjang kelas. Untuk anak SD lebih simpel, untuk anak SMP lebih mendalam, bisa berupa diskusi kelompok, sedangkan untuk anak SMA lebih kaya dimensi, selain berupa diskusi kelompok juga presentasi per kelompok.
Misalnya sekolah belum mendapatkan pesawat TV interaktif pun, tetap dapat berlangsung pemaparan masalah dan opini. Bukankah di masa SD dan SMP dulu banyak dari para guru yang kini berusia 40+ mengalami presentasi tanpa multimedia dengan proyektor?
Kenapa saya membayangkan diskusi dan tugas kelompok? Kalau guru hanya membagikan sudut pandang dari kasus aktual, apalagi secara sejarah, dan mau cari aman, hal itu takkan memperkaya sudut pandang para murid. Kini dengan arus informasi yang menderas di media sosial, apalagi dengan layanan AI, para murid akan mendapatkan lanskap masalah lebih luas, termasuk pelbagai pendapat pro dan kontra.
Dengan tugas kelompok, mereka takkan puas hanya dari potongan info, terutama video hasil olahan pihak non-pembuat video asli. Anak kritis, di bawah bimbingan guru kritis, akan mencari rujukan lebih luas untuk memperkuat argumentasi. Membaca dan menonton video itu saling melengkapi. Setiap guru pasti banyak membaca, sejak mereka bersekolah. Pasti.
