Motor Pak Boi di warung sate

Makian selalu mewarnai kehidupan, tapi umumnya orang paham kapan dan di mana boleh diucapkan.

▒ Lama baca 2 menit

Motor Pak Boi di warung sate Pak Agus, Jalan Raya Hankam, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Sepeda motor pemuda Cilacap, Jateng, yang bekerja di warung sate milik orang Boyolali, Jateng, di Jalan Raya Hankam, Kobek, ini memuat stiker pada pelat nomor depan. Mungkin panggilan dia adalah Pak Boi.

Tampaknya setiap bahasa mengenal makian. Namun kita harus menanya antropolog apakah dalam masyarakat yang kosakatanya belum terlalu kompleks juga ada umpatan. Pada beberapa bahasa, makian melibatkan kata yang berhubungan dengan seks terutama koitus dan genitalia perempuan terutama ibu.

Mengapa demikian? Mungkin sebagai provokasi untuk memancing kemarahan agar timbul perlawanan dan terjadilah perkelahian. Sekali lagi: mungkin, dalam arti pada mulanya. Nyatanya ucapan kasar juga terlontarkan untuk bercanda atau menyatakan seruan rasa girang. Tergantung suasana komunikasi.

Maaf, saya harus membuat contoh. Kata jancuk misalnya dari kata dasar ancuk dengan awalan di. Artinya disetubuhi. Wikipedia Indonesia mencatat kata “jancok“. Ada pula varian mbokné ancuk. Bahkan ada makian yang tak berubah makna menjadi seruan akrab. Misalnya, lagi-lagi saya mohon maaf: ti**mbokné, artinya klitoris.

Kalau saya tak salah ingat, pada abad lalu ada makalah Suripan Sadi Hutomo (1940–2001) untuk suatu seminar, dan makalah tersebut membahas etimologi kata-kata pisuhan Jawa. Salah satunya adalah dilogok jaran. Saya ingat, orang Semarang dan sekitarnya dulu akrab dengan pisuhan yang diringkas sebagai logok dan ndlogok, lalu pelesetannya adalah ladhuk. Semacam Jinguk’i yang tempo hari menjadi tema pameran seni rupa.

KBBI memuat lema cukimai dan puki mai. Kata puki mengingatkan saya kepada pukas (vulva). Jika menyangkut aneka makian dalam bahasa daerah di Indonesia, misalnya saja Remy Sylado (1945–2022) masih hidup tentu dapat menjabarkan secara mendalam dan lengkap. Dia seorang munsyi.

Dalam bahasa asing, misalnya Inggris, umpatan yang bertaut dengan seks dan perempuan terutama ibu, juga ada. Anda pasti sudah tahu. Seorang teman saya yang tak pernah mengumpat tiba-tiba menyumpah “Anak pantai!” Ternyata dia sengaja memaksudkan son of beach untuk memelesetkan makian bahasa Inggris. Kalau putra pantai mungkin lebih cocok.

Lalu? Makian atau apalah selalu mewarnai kehidupan. Kata anjir mudah terucap. Saya pernah menulis di sini, edisi awal Rolling Stone Indonesia ketika mentranskripsi wawancara dengan David Naif tak menyensor kata “anjing” yang beberapa kali terucap padahal tak membahas K-9.

Di media sosial, makian yang berarti penis bebas terlontar melalui teks. Bahkan grafiti demo menentang pemerintah pun menorehkan kata itu. Video emak-emak di Instagram ada yang enteng menyebut bulu pubis sebagai umpatan, bahkan ada yang lebih dari itu.

Suatu siang pernah serombongan cewek SMA naik motor, ada yang satu motor untuk bertiga, lewat di depan rumah saya sambil riuh ngobrol. Kata-kata tabu terhambur bebas dalam teriakan meningkahi suara knalpot. Padahal seragam mereka yang tertutup dimaksudkan sebagai kendali perilaku.

Pameran seni rupa hajinguk di Bentara Budaya Yogyakarta — Blogombal.com

4 Comments

mpokb Selasa 2 Desember 2025 ~ 01.26 Reply

Sekarang anak muda di Jabar ikut-ikutan bilang “cok” dalam obrolan sehari-hari…

Pemilik Blog Selasa 2 Desember 2025 ~ 05.38 Reply

Tertulari tanpa tahu riwayat kata 🙈

Junianto Senin 1 Desember 2025 ~ 23.23 Reply

Di Solo bukan ladhuk tapi ndladhuk.

Tinggalkan Balasan