
Banyak bilik ATM di SPBU Pertamina yang berlantai tinggi. Penempatan dalam rencana tapak pun agaknya mengikuti pedoman. Tetapi setiap kali bersua ATM di SPBU Jalan Raya Pondokgede, Jaktim, yang memasang baliho kecil SIM kolektif, ini saya heran. Pintu ayun pada salah satu bilik langsung berhadapan dengan anak tangga. Sedangkan bilik ATM di sebelahnya tidak. Ada pula kios dua pintu yang bertemu puncak tangga.
Ini memang persoalan mêrkéngkong, maju kena mundur kena. Kalau bukaan daun pintu ke arah dalam akan memepet atau malah membentur kotak ATM. Gerak orang di dalam juga repot. Maka solusinya adalah bukaan pintu ke arah luar. Arah keluar yang menggantung juga memperpendek durasi kemungkinan rangka pintu aluminium menggesek lantai.

Sumber masalahnya selain bilik terlalu sempit adalah teritis kurang lebar, padahal tinggi lantai selutut pria dewasa, sehingga tak tersedia ruang transisi bagi kaki setelah anak tangga teratas. Apakah juragan SPBU membiarkan hal ini sejak tahap gambar rancangan bangunan? Standar ukuran minimum bilik ATM pasti ada. Tanpa itu pun arsitek sonder sertifikat profesi tetap dapat menghitung kebutuhan ruang.

Tak memperhitungkan keselarasan ukuran tubuh orang dengan beraneka sarana dukung aktivitas itu seperti penempatan perlintasan zebra di Tugu Kujang, Bogor, Jabar, yang saya foto sebelas tahun silam. Tetapi jika pemkot membuat ceruk di trotoar tinggi untuk undakan malah berbahaya. Solusinya? Tanyakanlah kepada arsitek, bukan kepada rumput yang bergoyang digoyang yanggggg….


2 Comments
Di sini banyak bangunan ngawur tapi dibiarkan oleh dinas terkait. Semestinya kan inspektur bangunan juga mengecek detail, sekalipun itu ruko ya Bang Paman..
Yah gitu deh Indonesia nan uhuy ini.
Di sekitar saya banyak orang bikin warung, mepet ke jalan. Kalo ada motor pembeli ya diparkir di badan jalan. Kok bisa? Lha bangun rumah juga tanpa izin, tanpa setor gambar. Tetangga saya bikin rumah bagus tanpa izin, waktu ada inspeksi dari pemkot ya tinggal dikasih duit. Selesai.