Dik Titik dan emas Djoko Pekik 25 tahun silam

Pada 2000 Pekik menebus karyanya sendiri, kalau dengan nilai rupiah sekarang hampir Rp1 M.

▒ Lama baca 2 menit

Lukisan Dik Titik karya Djoko Pekik yang dibeli pelukisnya - Kompas — Blogombal.com

Dua berita dalam koran edisi yang sama ini bagi saya menarik. Tentang lukisan Djoko Pekik (1937–2023) dan foto ilustrasi berita tentang harga emas. Kedua berita itu berdiri sendiri, di halaman berbeda, namun saya menghubungkannya.

Kapsi foto Kompas (Selasa, 7/10/2025) menuturkan:

Lukisan berjudul ”Dik Titik” karya Djoko Pekik yang dibuat tahun 1960 dipajang di ruang koleksi di rumah Djoko Pekik di Dusun Sembungan, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Minggu (5/10/2025).

Lukisan Pekik, Dik Titik, dibuat saat sang seniman masih kuliah di ASRI, Yogyakarta (1960). Lukisan itu tak jelas rimbanya selama 40 tahun. Sekitar Reformasi 1998, lukisan Pekik, Berburu Celeng, laku Rp1 miliar. Maka Dik Titik pun menggerakkan seorang pemilik pada 2000 untuk memeriksakan keaslian lukisan kepada sang kreator. Pekik yakin itu karyanya, dan membeli karya tersebut.

Lukisan Dik Titik karya Djoko Pekik yang dibeli pelukisnya - Kompas — Blogombal.com

Adapun kapsi foto ilustrasi berita “Diprediksi Turun Sementara, Harga Emas Bakal Menguat Lagi” karya Totok Wijayanto bertutur:

Pegawai toko emas Bintang Timur di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, menunjukkan pilihan perhiasan emas kepada calon pembeli, Senin (6/10/2025). Berdasarkan data di laman Logammulia.com yang dikelola PT Antam Tbk, harga emas batangan Antam tembus Rp 2.250.000 per gram pada Senin (6/10/2025). Harga ini merupakan rekor tertinggi sepanjang masa.

Memotret dagangan toko emas itu tak semua media berita sudi - Kompas — Blogombal.com

Lantas apanya yang menarik dari berita Pekik dan foto gelang emas, selain harga emas per hari ini eh, kemarin, dan harga emas tahun 2000? Hal biasa sih: foto berita aktual, dijepret sehari sebelum koran terbit. Kalau untuk berita daring, foto bisa terbit hari itu juga. Halah, kata Anda.

Baiklah. Memotret dagangan toko emas dari dekat bukan hal mudah. Buktinya banyak sekali media berita daring yang tak sudi menampilkan foto seperti buatan Kompas. Mengambil foto stok, juga dari luar negeri, lebih murah. Menggaji sekian pewarta foto, dan mengongkosi peralatan fotografi, itu tak menarik.

Menghasilkan foto mutakhir dari aktivitas money changer dan kasir bank juga bukan hal mudah, apalagi bagi awak dari media yang kurang tenar. Padahal kamera ponsel makin bagus, bukan?

Foto jurnalistik mungkin memang mahal, padahal belum tentu menambah trafik, lagi pula kata sebagian pekerja pabrik konten, eh media berita, belum tentu pembaca mengapresiasi. Mungkin dengan gambar ilustrasi hasil AI pun sudah cukup.

Dalam kasus berita valuta asing, stok foto uang kertas dollar Amerika dan mata uang lain itu berlimpah, padahal editor harus berpacu dalam berita sela (breaking news).

Tinggalkan Balasan