
Malam pukul tujuh lebih sikit, saya berjalan melipir agar tak tersenggol mobil dan sepeda motor. Saya menengok ke kiri, ada toko bernama Tanjung Bujaya, di Jalan Pasar Kecapi, Jatiwarna, Kobek, Jabar. Seperti umumnya toko beras eceran, setiap wadah beras ada nama dan harganya. Makin ke belakang makin mahal.
Baskom beras terdepan dipasangi tulisan beras kawak, harga per liter Rp8.000 — paling murah. Ya, di Jakarta dan sekitarnya, juga di Salatiga, Jateng, satuan ukuran beras eceran adalah liter, bukan kilogram. Soal nama, saya baru tahu beras kawak.
Kawak berarti tua atau lawas. Dari arsip berita Radio Elshinta (2023), beras kawak yang berarti beras lama diburu warga, karena harga beras medium masih Rp12.000 per kilogram, padahal sebelumnya Rp11.000 per kilogram. Dalam warta tak tersebutkan harga beras kawak yang tampaknya termurah.

Saat menulis pos ini, saya mencari arsip beras di blog. Ternyata saya sudah beberapa kali menulis beras. Ada satu foto yang menyadarkan saya: beras yang pada 2020 seharga Rp13.000 per liter, pekan lalu di warung yang sama sudah Rp19.000. Saya tak tahu apakah dua pekan ke depan harga beras akan naik lagi, padahal kabarnya menjelang panen raya.

Sejujurnya, meski beberapa kali menulis beras saya tak paham masalah perberasan. Anggota DPR yang bukan di Komisi IV, mengurusi pangan, mungkin juga tak paham jagat beras. Soal tunjangan beras anggota DPR yang Rp12 juta per bulan, menurut sang wakil ketua Komisi III Adies Kadir karena dirinya salah baca data.
Menanggapi komentar Rudy Ndobos soal itu dalam pos saya perihal tunjangan beras yang kemudian direvisi Kadir, saya menulis:
Iya, dia berkilah begitu. Berarti angka Rp12.000.000 tak langsung membangkitkan keraguan dalam diri. Secara optikal, 200.000 itu sangat berbeda dari 12.000.000. Kalau keliru baca, karena mestinya 1.200.000, itu masih agak masuk akal.
Dasar DPR! Dewan Pikiran Ruwet.
Saya termasuk orang yang lemah dalam angka, dan sulit mengingatnya, namun saya tak separah yang mulia anggota dewan. Rp200.000 dan Rp12 juta itu jauh.
Misalnya saya supermakmur sentosa pun tetap heran kalau dapat tunjangan beras Rp12 juta. Tetapi kalau duit selalu menghampiri tanpa saya membanting tulang dan kepala mungkin juga tak peka perbedaan nilai rupiah. Hanya orang tajir cermat macam Warren Buffet yang selalu peduli harga.

Soal beras adalah soal perut rakyat. Di Jepang, Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, Taku Eto, Mei lalu undur diri karena rakyat marah atas kelakarnya perihal beras. Eto bilang dirinya tak pernah beli beras karena selalu dapat pemberian dari pendukungnya. Biaya hidup di Jepang makin mahal, harga beras amat mahal. Gurauan Eto dianggap tak bermutu dan tak etis.
Di Indonesia, anggota DPR yang menghina rakyat tak undur diri. Seorang anggota DPR dari partai yang menyebut diri partainya wong cilik merasa level dirinya lebih tinggi dari tukang becak. Ketua umumnya pernah bercanda tak mau putrinya dapat suami yang seperti tukang bakso. Si menantu itu pengusaha, silakan cari kode emiten RAJA dan RATU di bursa saham.

Hmmm… obrolan soal beras bisa ke mana-mana ya. Karena beras menyangkut perut. Ujaran sinis bilang, kalau kelas menengah ke atas belum mengeluhkan harga beras dengan meratap (Jawa: ngalup), berarti situasi aman terkendali, bukan terkendala. Padahal dalam kemelut ekonomi, kalau masalah tak teratasi akan membuat kelas menengah ke atas kelabakan.
Sebagian dari kelas menengah tadi mungkin dulu menyebut pelesetan lagu The Bee Gees, “It’s Only Words” menjadi lagu Jawa “Isa Ngliwet” (= bisa menanak nasi), yang penggalannya pernah dibawakan Basuki Srimulat di atas pentas, sebagai dagelan wong kesrakat.
Untuk ngliwet harus nempur dulu. Malah mungkin harus bertempur berebut beras bantuan yang kawak. Isa Ngliwet, kuwi wis beja banget. Padahal kalau semua harga meroket, pengeluaran terbesar kelas menengah pun untuk makan. Dalam rumusan Chatib Basri, “Kelas Menengah: Dari Zona Nyaman ke Zona Makan” (¬ lihat arsip “2 ekor ayam Rp55.000“).
