
Saya masih merasakan ekonomi rakyat menggeliat. Memang Alfamart dekat saya sekarang tak banyak pengantre di kasir, motor parkir juga jarang. Penjual sayur keliling maupun yang mangkal bilang nilai belanjaan ibu-ibu menyusut.
Maka tadi ketika melihat ada spanduk warung yang menawarkan dua ekor ayam goreng Rp55.000 saya bersyukur. Tetapi karena mulai terasa kepyur gerimis saya tak melongok seberapa besar ayamnya. Duit segitu, Rp55.000, tak cukup untuk membeli dua ekor belibis goreng. Apalagi ayam panggang baru, di area tetangga, masih sekelurahan, yang dengan diskon promo pun seekor ayam Rp59.000.
Ada banyak warung di Jalan Pasar Kecapi, Jatiwarna, Pondokmelati, Kobek, Jabar. Sempat menyurut saat pandemi, lalu normal lagi, bahkan warung makan bertambah.
Dari sejumlah warung baru ada satu kesamaan: tak melayani mengudap di tempat, bahkan kursi untuk pembeli pun tak ada. Semua pembeli juga membawa pulang makanan. Begitu juga dengan aneka minuman dingin manis.
Pemilikan sepeda motor, termasuk motor bodong, yang cenderung bertambah sesuai jenjang sekolah anak mempermudah konsumen pergi dekat untuk membeli lauk. Demikian pula layanan Gofood, Grab Food, dan lainnya, yang tak mendorong pemilik warung harus menyewa tempat lebih besar dari 2 x 2 meter. Bahwa motor yang diparkir membikin sesak jalan, itu soal lain.
Jadi, bagaimana sebetulnya ekonomi kita saat ini? Biarlah yang paham masalah terus berdebat soal pertumbuhan ekonomi 5,12 persen pada kuartal kedua 2025. Bagi masing-masing dari kita yang terasa adalah apakah saat ini untuk merogoh duit terasa lebih berat, bisa berpikir ulang lebih dari tiga kali.
Nyatanya, jalanan masih macet. Angkutan umum massal masih penuh. Artinya masih banyak orang bekerja. Warung di sekitar kantor masih punya pembeli. Di area saya masih ada orang merenovasi rumah, artinya ada uang yang mengalir ke tukang selain ke toko bangunan.

Tetapi ah… selalu ada persoalan politik dan ekonomi yang tak kita pahami. Bagi kita, rakyat, cuma secara subjektif merasakan ada yang membuat hati tak nyaman atau tidak, lalu kita dirugikan atau tidak.
Kembali ke urusan dua ekor ayam, pekan lalu anak saya memesan nasi ayam bakar warung baru untuk makan siang kami, bukan yang saya foto, melalui aplikasi pesan antar di ponsel. Ternyata ayamnya kecil kurus, masih terlalu remaja, tepatnya ABG, berbeda dari gambar. Dalam terminologi komputer grafis abad lalu: what you see is (not) what you get. Alias tugut tubitru.
Istri saya, yang sepulang dari suatu tempat mendengar laporan anak saya, menanggapi, “Tega ya orang jualan kok ngakalin sejauh itu. Emang sih harga-harga pada naik, penjual susah naikin harga, tapi kalo gitu terus dia bisa ditinggal pembeli.”
Dalam hati saya bilang, “Orang kecil bisanya cuma ngakalin pake cara itu.”
—
Berikut artikel saya di Kompas, 24 Juli 2024.
“Kelas Menengah: Dari Zona Nyaman ke Zona Makan”.Menjadi kelas menengah di Indonesia memang tak mudah. Instrumen perlindungan sosial tak memadai. Data enam bulan terakhir bicara tentang daya beli kelompok menengah bawah yang… pic.twitter.com/OAjkCJCLOm
— M. Chatib Basri (@ChatibBasri) July 23, 2024
—

8 Comments
malam kemarin tak sengaja ketemu teman karib semasa smk pas duduk di warung stasiun LRT
pertanyaannya ke saya mirip. “jadi gimana sebenarnya ekonomi kita? ini temen2 kesusahan nyaluran kredit usaha. banyak yang tutup.”
kebetulan dia ada di bank sehari-harinya.
“warung makan deket pabrik masih rame saat jam makan siang. LRT dan TJ rame banget di jam sibuk. orang-orang di Jakarta masih bisa hidup brarti.”, jawab saya.
kalau mengutip ungkapan jaman pandemi, “tetaplah hidup walau tak berguna”.
Waduh, paragraf penutupnya itu lho 🫣🙈
Ada dua resto khusus ayam yang sering saya datangi (saya membeli untuk anak dan cucu), keduanya di pinggir jalan besar berbeda. Di resto A, ayam utuh (bukan ayam kampung) lengkap dengan sambel-lalap dan kremes Rp 65.000, di resto B Rp 72.000.
Nah ada kremesnya itu. Enak. Pokoknya yang harus dibatasi biasanya enak.
Harga naik, tapi kenaikan upah kok nggak mengimbangi harga, ya Bang Paman.
Kemarin ada famili nganter anaknya walk-in interview di perusahaan yg berkantor di gedung keren di Kuningan. Gaji pokok yg ditawarkan 2 juta, tega bener 😑😑
Btw iyaa.. Banyak kedai di app yg harganya ngawur dan makanan gak real pic huhu
Gaji Rp2 juta padahal UMP Jakarta berapa? Kantor mentereng di lokasi bagus belum tentu kasih imbalan layak.
Montok di poster ternyata kerempeng di wujud fisiknya. Semoga asalnya bukan dari burung puyuh apkir.
Saya pikir burung dara remaja. Eh mungkin gemak ya