
Di koran Kompas kemarin (Sabtu, 12/7/2025) ada iklan selebar empat kolom sejumlah nama kepada seorang almarhumah dan keluarga besarnya. Saya tak tahu masalahnya, dan tak mencari tahu misalnya dengan melacak iklan berita lelayu.
Hal tersebut tidak saya lakukan karena itu tak menyangkut kepentingan publik. Meskipun demikian saya berharap masalahnya sudah selesai.
Hal yang menarik bagi saya adalah pemanfaatan koran justru ketika pembaca koran kian menyedikit. Apa saja contoh ragam iklan berupa teks di koran, termasuk Kejagung memanggil buron, dan undangan terbuka Hendropriyono dalam urusan tanah, sila tengok arsip.

Hal yang belakangan masih muncul sebagai iklan pengumuman biasanya menyangkut sengketa bisnis (terutama urusan merek dagang) dan hukum perdata. Misalnya sebuah keluarga memanggil salah satu anggota keluarga untuk mendengarkan wasiat seorang mendiang dari notaris.

Pada masa sehat koran, sebelum ada media sosial, pertunangan dan pernikahan juga diiklankan dalam iklan baris di koran — biasanya nikah tamasya. Bahkan putus ikatan pertunangan juga diiklankan. Demikian pula pengumuman putus hubungan keluarga. Kalau Anda tak percaya silakan mencari arsip iklan macam itu di perpustakaan Kompas atau Perpustakaan Nasional.
Tentu ada juga iklan pengumuman dari sebuah perusahaan bahwa seseorang sudah bukan karyawan dan perusahaan tak bertanggung jawab atas tindak tanduk orang tersebut.

Iklan minta maaf di koran karena perilaku di media sosial juga ada, misalnya karena mengolah gambar kawan dengan AI kemudian diunggah ke Instagram, dan minta maaf karena mencemarkan nama sebuah yayasan di Instagram.
Adakah minta maaf juga di pelantar media sosial atas tindakan salah di media sosial? Agak sering. Bahkan dengan video. Salah satunya dalam kasus mencemarkan seorang pengusaha makanan, si pelaku minta maaf via video mengenakan kacamata gelap.
Tulisan ihwal iklan pengumuman sengketa warisan keluarga yang masih dibaca di blog wagu ini, karena giringan mesin pencari, adalah tentang keluarga Probosutedjo, adik tiri Presiden Soekarno.
Dalam senja kalanya, ada saja hal menarik di koran selain berita. Terutama bagi pembaca iseng yang kurang kerjaan padahal dirinya tak dirugikan maupun diuntungkan. Maka berilah dia pekerjaan.


2 Comments
Di koran versi digital, iklan permintaan maaf dan berita lelayu tidak ada. Tetapi acara TV, iklan baris properti dan otomotif masih ada. TTS juga ikut diangkut ke versi digital, bahkan bisa dimainkan.
Saya berhenti berlangganan koran cetak Kompas pada 2022. Terlalu mahal, bisa lebih mahal dari buku.
Keunggulan Kompas bukan dot com antara lain di berita lingkungan, iptek, kesehatan, kebudayaan, opini, dan investigasi serta data.
Maksud saya keunggulan selain di foto jurnalistik. Mereka bersedia menggaji pewarta foto, menyediakan drone, dan mengelola arsip foto. Media lain banyak yang malas untuk semua urusan foto.
Sama satu lagi: media lain banyak yang malas langganan jurnal macam Nature, The Lancet, dan Elsevier, dan segala konten berbayar.
Malah ada yang redaksi di media lain yang cuma senang kalo ada awak redaksi yang langganan aneka konten berbayar, beli buku untuk rujukan menulis, tapi gak minta reimburse sampai dompetnya rèmbès.
Saya gak suka kalo Kompas.id gak punya sparring partner.