Belimbing busuk, sompret! Setan alas!

Makian adalah bagian dari khazanah kehidupan dan pendewasaan seseorang.

▒ Lama baca 2 menit

Belimbing busuk, sompret! Setan alas! Bajingan! Anjing! — Blogombal.com

“Eman, belimbing kok dibiarin busuk, Bu,” kata saya dalam bahasa Jawa kepada pemilik warung sayur. Si Ibu bilang itu karena buahnya sudah pada busuk di pohon lalu jatuh.

Lantas belimbing dikumpulkan di ceruk ban bekas yang menjadi pot tanaman mati di sudut halaman. Penyebab busuk belimbing antara lain jamur upas. Curah hujan tinggi konon juga berperan.

Usai memotret si busuk, dengan terlebih dahulu minta izin, dan si Ibu sudah tahu saya suka jeprat-jepret, salah dua hasilnya adalah cobek dan bakso aci, saya membatin satu hal: umpatan.

Belimbing busuk, sompret! Setan alas! Bajingan! Anjing! — Blogombal.com

Kenapa ya belimbing busuk, atau buah busuk lainnya, misalnya mangga busuk, tak menjadi pisuhan? Kalau kutu busuk memang satu pengertian, bukan kata benda diberi atribut, untuk menyebut Cimex lectularius.

Di Eropa tempo hari kutu busuk menjadi isu besar karena banyak ranjang hotel dihuni para-para bangsat. Oh ya, bangsat juga menjadi pisuhan. Namun sungguh tak pantas jika bangsat diucapkan dalam rapat di DPR (2018). Bahwa misalnya dia bangga dan bahagia disebut begitu, ah itu lain soal.

Setiap bahasa yang lengkap, dalam arti kaya akan kosakata, mengenal kata makian. Sastra, dan kemudian musik serta film mencomotnya, lalu perjalanan zaman menerapkan sensor dan peringatan ihwal konten ofensif. Untuk tayangan langsung di televisi, teknologi menerapkan beeppp secara otomatis — tetapi setahu saya tidak untuk bahasa Indonesia, entah besok pagi setelah AI diterapkan.

Saat saya bocah, sebagian makian saya kenal dari teks, bisa fiksi bisa komik. Misalnya dari cerita dan komik silat. Umpatan setan alas hingga saya tua baru saya dengar langsung sekali.

Saya ingat, mendengar kata itu dari seorang pria gempal bertelanjang dada di bawah pohon lengkeng, suatu siang, kepada sopir bus yang sedang ngetem, di Jalan Diponegoro, Salatiga, Jateng.

Dia mengucapkannya dengan tertawa. Si sopir terbahak-bahak. Sungguh sebuah cara bersalam yang kasar. Saat itu saya masih kelas lima SD, duduk dalam bus.

Adapun kata keparat — artinya kafir — yang terucapkan secara lisan saya dengar setelah dewasa, dalam sebuah rapat di kantor, tanpa niat bercanda.

Kalau makian sompret belum pernah saya dengar langsung, hanya saya ketahui dari komik Petruk Gareng. Namun abad lalu seorang seniman bercerita bahwa seorang tokoh mengucapkan sompret di tribune TIM. Tokoh itu adalah wartawan tiga zaman, penulis buku, dan anggota Parfi yang kadang nongkrong di Tangga Film gedung pusat perfilman saat itu.

Media, dari teks sampai media rekam dan pengaliran audio visual, adalah pencatat umpatan. Selalu ada umpatan baru melengkapi umpatan lama. Kata anjir dan anjrit mungkin belum ada pada 1970-an. Adapun kata anjing termasuk abadi — apa sih kesalahan kaum K-9? Majalah Rolling Stone Indonesia pada awal 2000-an tak menyensor ucapan anjing berulang kali dari David Naif dalam wawancara khusus. Kalau uwasuu bagi Butet Kartaredjasa seperti mantra rutin.

Belimbing busuk, sompret! Setan alas! Bajingan! Anjing! — Blogombal.com

Makian. Umpatan. Pisuhan. Dengan segala gradasi kekasarannya, seperti grinding kopi dan lada, adalah bagian dari pendewasaan seseorang. Salah satunya empan papan, tahu kapan dan di mana serta kepada siapa dianggap boleh diucapkan maupun ditulis. Termasuk kata ndasmu (¬ arsip: Menunggu KBBI memuat lema ndasmu)

Teman saya dulu, wartawan koran Surabaya yang sepekan sekali pulang ke Malang, Jatim, kaget ketika disambut anak lelakinya yang masih balita di pintu, “Bajingan kamu, ya!”

Si bapak kaget namun bersabar. Dia dan istrinya mencari tahu dari mana kata itu memperkaya khazanah anak. Ternyata dari televisi dan anak tetangga. Saat itu belum ada KPI.

6 Comments

mpokb Sabtu 12 Juli 2025 ~ 11.53 Reply

Makian “monyet” dan “babi” tetap, tapi “anjing” bisa jadi anjir, anying, dan anjay (eh, ini bukan makian ding). Sepertinya orang kita punya obsesi terhadap anjing 😆

Pemilik Blog Minggu 13 Juli 2025 ~ 18.28 Reply

Iya. Kayak orang Jogja memelesetkan bajingan menjadi bajigur, bajinguk, dan hajinguk 🫣

Ndik Jumat 11 Juli 2025 ~ 20.35 Reply

Gimana dengan menyantunkan umpatan? Saya pernah dengar beberapa Kali umpatan yg disajikan Dan disarukan Dalam kalimat Tanya atau kalimat yg sejalan dengan menghela nafas.

Dulu sering terdengar saat Masih junior, bahkan kunyuk Dan semacamnya sering dipakai memanggil, ketika mood Dan pressure sedang peak. Bahasa kasar itu mudah terdengar ketika sudah akrab, Karena Tahu benar saat dengan person lain beliaunya menjaga jarak Dan tutur, Sangat clean.

Kesantunan umpatan yg wagu yg tercetak di kepala Adalah umpatan kapten haddock di tintin. Lebih ke kebingungan translation

Pemilik Blog Sabtu 12 Juli 2025 ~ 02.48 Reply

Alih bahasa eh adaptasi umpatan Haddock dinilai berhasil. Biang panu!

Rudy Jumat 11 Juli 2025 ~ 14.54 Reply

Memaki dengan menggunakan bahasa daerah terasa lebih mantap, entah kenapa. Kata-kata anying sia, terasa lebih akrab ketimbang anjing kamu. Paling tidak buat saya rasanya begitu.

Pemilik Blog Jumat 11 Juli 2025 ~ 15.10 Reply

Bahasa ibu, untuk memakai maupun berseru karena kaget atau lainnya, lebih mengena, bahkan ketika seseorang telah menjadi bilingual. Orang sudah lama jadi warga Eropa masih bilang, “Blaik!”

Soal makian, Jenderal Gatot Subroto terkenal dengan ucapannya, “Trèmbèlané!” Konon begitu.

Tinggalkan Balasan