Bociku meramaikan makanan instan

Makanan instan untuk darurat. Masalahnya, darurat terjadi saban hari.

▒ Lama baca < 1 menit

Makanan instan Bociku Rp10.000 di warung sayur — Blogombal.com

“Ini apa, Bu?” tanya saya kepada Bu Warung dalam bahasa Jawa krama madya.

“Coba aja Pak, enak kok. Tinggal dikasih air panas. Banyak yang suka. Ini sepuluh ribu (rupiah),” sahutnya.

Saya baca kemasan itu: Bociku. Ternyata bocu itu singkatan bakso aci. Artinya bakso dan tepung. Maka saya pun teringat makanan instan sejenis di warung dekat rumah ini: Cuanki Juara. Harganya juga Rp10.000 per bungkus. Lebih murah daripada Indomie tanpa lauk sayur, telur, dan sosis.

Makanan instan Bociku Rp10.000 di warung sayur — Blogombal.com

Akhirnya kita terbiasa dengan makanan instan karena lebih praktis, untuk cepat saji yang diiklankan di TV maupun YouTube. Cukup direbus sebentar atau mengguyur air panas, tergantung jenis hidangannya, termasuk Quaker Oats — namun yang ini tak semua lidah cocok.

Ahli kesehatan berpendapat makanan instan atau cepat saji kurang sehat jika sering dikonsumsi. Lihat misalnya artikel Alodokter dan Halodoc yang sudah ditinjau oleh dokter.

Cuanki instan Rp10.000 di warung sayur — Blogombal.com

Masalahnya memang rumit, karena menyangkut juga ekonomi dan kemudahan mengolah. Kalau anak sudah rewel karena lapar, padahal orangtuanya sibuk, apa solusinya?

2 Comments

Ahmad Sahidah Sabtu 3 Mei 2025 ~ 09.04 Reply

Betul, Paman.

Saya sering meminta anak untuk memasukkan telur pada mie yang direbus agar ada protein yang juga diasup. Hehe

Pemilik Blog Sabtu 3 Mei 2025 ~ 09.15 Reply

Kalo saya cuma pake bumbu separuh saja, supaya gak kebanyakan natrium. Yang berbahaya dari mi instan itu bumbunya. Kalo buat diabetisi ya nilai glikemiknya apalagi Indomie jumbo 😂

Tinggalkan Balasan