Bu Hakim di balik pintu

Janganlah berprinsip baca berita gratis kok mau foto bagus.

▒ Lama baca < 1 menit

Foto Bu Ketua Majelis Hakim PN Semarang - Kompas — Blogombal.com

Foto untuk berita pengadilan di Semarang, Jateng, ini estetis, dalam arti sesuai kaidah keindahan — bukan keren dan bersuai dengan selera kekinian seperti pemaknaan sebagian orang.

Kapsi foto Kompas (Rabu, 9/7/2025), karya P. Raditya Mahendra Yasa:

Hakim ketua Mira Sendangsari memasuki ruangan untuk memimpin sidang tuntutan terhadap anggota Polrestabes Semarang, Aipda Robig Zaenudin, di Pengadilan Negeri Semarang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (8/7/2025). Robig merupakan terdakwa kasus penembakan yang menewaskan siswa SMKN 4 Semarang, Gamma Rizkynata Oktafandy.

Bagi saya inilah cara koran mengemas berita telat dengan kekayaan visual. Foto dan video seputar sidang sudah muncul lebih dahulu di media berita daring, TV, serta media sosial.

Kalau media cetak yang terbit terlambat sehari juga menampilkan hal yang sama berarti hanya mengulangi. Kurang bernilai bagi mata pembaca.

Media cetak memang dunia kemarin, namun tata letaknya memberi keleluasaan dalam mengemas konten statis, tidak interaktif. Salah satunya berupa jeda untuk mata.

Foto yang kuat malah bisa mengarahkan pembaca kepada permenungan sejenak. Dalam pacuan informasi serba-bergegas, ada kalanya kita ingin memperlambat laju pajanan. Gulir teks di layar ponsel membutuhkan rehat, namun bukan untuk video yang bergerak sehingga mata penat.

Foto Bu Ketua Majelis Hakim PN Semarang - Kompas — Blogombal.com

Apakah foto macam ini tak layak muncul dalam berita media daring, yang terbit tak sampai sejam setelah pemotretan? Sangat layak.

Bahkan misalnya sebuah media berita hanya dirancang untuk ponsel, foto persegi maupun vertikal bisa menjadi opsi. Seperti blog ini, yang ikut-ikutan format anjuran Instagram dan TikTok.

Persoalannya kenapa banyak media berita — sebetulnya tanpa atribut daring sudah berarti demikian — enggan menyajikan foto bagus hasil karya sendiri maupun membeli dari pihak lain?

Saya sudah beberapa kali membahas soal ini. Kalau saya ringkas: bagi sebagian penerbit media, foto bagus berbiaya tak mendongak trafik, lagi pula pembaca tak butuh foto bagus dengan hak cipta yang jelas. Namun saya berharap, minat pembaca tak seperti yang dituduhkan.

Tentu saya tak berharap ada kilah penerbit — ingat, mereka ini yang memodali dan memikirkan bisnis termasuk gaji awak redaksi — yang mengulangi dagelan melecehkan tukang becak: mbayar murah kok pengin slamet. Dalam bisnis media berita: baca gratis kok mau gambar bagus dengan hak cipta.

Jangan ditambah baca gratis kok mau produk jurnalistik yang genah, hasil kerja keras, bukan cuma saling menyontek. Kalau pakai atribusi untuk berita eksklusif tentu bukan menyontek.

Kalau menyebut “menurut sebuah media”? Ini sih mengkhianati solidaritas korps. Tinggal sebut saja apa susahnya sih?

3 Comments

Ndik Jumat 11 Juli 2025 ~ 12.26 Reply

Tahu benar bab Ini, kebetulan ada temen ngopi tiap Hari, juragan media lokal yg tiap Hari wajahnya cepat menua.

Tentang foto kalaupun ada yg bagus konteks artistik, ya memang si Anak lapangan yg memang punya sense lebih. Dia membawa passion hobi motrek ke kerjaan. Apresiasi tengkyu Sementara tak membuatnya surut. Artis momentum

Pemilik Blog Jumat 11 Juli 2025 ~ 14.04 Reply

Lucu atau menyedihkan?

Ndik Jumat 11 Juli 2025 ~ 19.59 Reply

Ya begitulah kehidupan 😂

Tinggalkan Balasan