Tukang becak baca koran

Dulu itu jamak kalau tukang becak baca koran, antara lain koran tempel.

▒ Lama baca < 1 menit

Dulu sih biasa, tukang becak di Jogja baca koran — Blogombal.com

Lho apa anehnya, bukankah tukang becak tidak buta huruf? Tidak aneh, memang. Namun dulu, abad lalu, sebelum ada ponsel, seorang ibu di depan Hotel Sri Manganti, Jalan Urip Sumoharjo, Yogyakarta, menggerundel karena suaranya tak terdengar oleh tukang becak yang sedang membaca koran.

“Huh, kok kaya priayi waé, maca koran,”, gerutu ibu itu. Orang lain di dekat si ibu itu pun mendengar. Termasuk saya.

Saya ingat, saat itu si tukang becak yang bercaping mengenakan kacamata baca. Dia duduk di atas jok becaknya, satu kaki dilipat di atas pahanya.

Koran. Membaca. Priayi. Apakah ketiga hal itu harus berkelindan? Dulu pada masa pra-Orde Baru, ketika tingkat pendidikan belum meluas, koran juga banyak. Setiap partai punya koran.

Tukang becak yang saya foto di depan LPP, dekat hotel yang tadi, pagi itu sedang menunggu penumpang yang akan menyusulkan barang dagangannya. Dia ditemani secangkir kopi.

Harga koran di Jogja sekarang, kalau Kedaulatan Rakyat Rp4.000, sedangkan Tribun Jogja Rp2.000. Tribun selalu punya gambar besar, apalagi kalau tentang sepak bola, dan desain grafisnya nyaman di mata, teksnya enak dibaca.

Misalnya yang dia baca itu koran bekas, tetap bagus. Artinya tidak menyia-nyiakan melek aksara, apa pun mediumnya, dari kertas bungkus sampai ponsel.

Tinggalkan Balasan