↻ Lama baca 2 menit ↬

Tulisan panjang di WhatsApp

Saya sudah beberapa kali menerima artikel panjang perihal nokturia, atau bolak-balik pipis pada malam hari saat tidur, di grup WhatsApp (WA). Anda pasti juga pernah. Biasanya artikel panjang, serius maupun guyon, tak jelas sumbernya.

Ada sih yang agak jelas dan jelas. Agak jelas itu memuat nama penulis, misalnya Dokter Siapa, tetapi kadang kalau kita cari nama dokter tersebut, apalagi spesialis, tak terjumpa. Adapun yang jelas, memuat nama penulis dan URL.

Tetapi yah sudahlah, memang begitulah literasi media: orang gemar meneruskan pesan, termasuk yang tak dapat dipertanggungjawabkan, apalagi jika menyangkut politik dan sentimen negatif isu rasial dan keagamaan.

Tulisan panjang di WhatsApp

Tentang tulisan panjang, mula pertama umumnya hasil salin dan tempel. Seberapa panjang teks nokturia, yang tak menyesatkan itu, sila lihat hasil perhitungan Word Counter. Teks sepanjang itu juga dapat menjadi posting blog. Atau mungkin teks ini dari blog? Saya malas mencari tahu.

Tulisan panjang di WhatsApp mirip konten blog

Namun ada juga teks panjang hasil menuliskan sendiri di WA. Di grup tertentu ada. Misalnya di grup yang salah satu dari enam adminnya pernah mencemplungkan saya sebagai anggota. Di sana ada seorang penulis esei bertopik apa saja, dari musik, sastra, filsafat, wayang, kultur pop, kebijakan publik, politik, sampai sepak bola.

Kenapa tak di Facebook atau blog, tanya seorang warga grup. Dia menjawab lebih suka WA. Mengetiknya di PC. Padahal anggota grup kecapaian membacanya. Lalu ketika tiba-tiba muncul interupsi berupa topik yang sama sekali berbeda, lebih ringan, dan kadang konyol, langsung meriah tanggapannya.

Di grup WhatsApp, seperti halnya milis pada masa lalu, orang memilih tak merespons maupun tak bereaksi terhadap posting tertentu sebagai bentuk pernyataan sikap.

Kata seorang anggota, grup WA itu kemudian senyap. Sudah setahun ini. Entahlah sang eseis pindah ke ladang mana. Secara pribadi saya tak mengenalnya. Bahkan mayoritas dari 40-an anggota itu tak saya kenal.

Selama di sana saya pasif. Mirip pemain ketoprak, kalau dipanggil baru nongol ke pentas. Saat muncul pun belum tentu ditanggapi padahal sebelumnya menanyakan saya.

Kenapa saya sejak pertama tak menolak dibenamkan ke sana? Sungkan. Tetapi akhirnya saya pamit kepada grup.