↻ Lama baca < 1 menit ↬

Isu keadilan restoratif dalam pencurian cokelat di Alfamart Tangsel

“Nah gimana tuh Bung soal pencuri cokelat naik Mercy di Alfamart?”

“Kita urutkan dulu. Kalo kita nyebut pencuri harus jelas hukumnya, masih terduga, tersangka, terdakwa, atau terpidana. Lalu apapun yang diambil dari toko nggak ada hubungannya dengan dia naik mobil apa.”

“Okelah kalo begitu. Kalo soal pencuri eh mencuri, anaknya itu di kantor polisi kan bilang ibunya melakukan pencurian.”

“Gantian saya yang bilang oke. Lalu?”

“Kenapa kok jadi damai? Dulu 2009 Nenek Minah ambil kakao, itu kan biji buat bahan cokelat, dihukum. Alasan hakim demi kepastian hukum. Sekarang ada nyonya ngutil cokelat eh damai, selesai….”

“Oh, mungkin dulu konsep keadilan restoratif belum merata. Intinya sih nggak semua laporan hukum harus berujung penjara, lihat kasusnya juga, dan ada syaratnya. Salah satunya nggak menimbukan onar, pro-kontra, dan entah apa lagi, pokoknya nggak bikin tegang dalam masyarakat. Konon begitu.”

“Listyo waktu masih calon kapolri bilang kasus Nenek Minah nggak boleh terulang. Tapi kalo cokelat Alfamart sekarang ini pelakunya bukan orang sederhana kayak Nenek Minah.”

“Oh, memang. Lalu?”

“Terserah deh. Ada yang lebih penting daripada cokelat saat ini, relevan abis. Listyo dulu janji, hukum nggak akan tajam ke bawah tumpul ke atas. Cocok buat kasus Sambo, Bung.”

¬ Gambar prolah: Antara, Instagram @hotmanparisofficial, Freepik