↻ Lama baca < 1 menit ↬

Termos cap Ngehe dari makaroni pedas Ngehe

Inilah perbedaan generasi. Beberapa tahun silam ketika di atas meja sejawat tergeletak makaroni pedas cap Ngehe saya pun takjub. Saya membatin, anak milenial lebih berani dalam mengemas jenama. Pemilik usaha memang anak muda, Ali Muharam (¬ Kumparan).

Padahal dulu, abad lalu, saya mengalami merek Dagadu (dengan “d” dalam, seperti dalam bahasa Indonesia), bahasa walikan Jogja berbasis hanacaraka untuk umpatan “matamu”, dan saya pun oke-oke saja. Kalau dalam bahasa walikan hanacaraka, gaya Semarang Raya, mungkin “kayaku” (¬ Suara Merdeka). Rumus tanpa halaman bersambung ada di blog Pamboedi Files. Bahasa gali ini kian sedikit penuturnya, tak semua anak muda Semarang paham, apalagi generasi Z. Tetapi Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi kadang masih memakainya (¬ Radar Semarang)

Saya dulu bisa langsung menerima mungkin karena berpengandaian bahasa ini tak diketahui semua orang tua. Padahal orang dewasa d Jogja saat itu umumnya tahu serbasedikit.

Termos cap Ngehe dari makaroni pedas Ngehe

Kembali ke ngehe, saya tahunya setelah bekerja di Jakarta, tahun awal 1990-an. Itu untuk umpatan menyatakan kekesalan, semacam sialan. Mungkin serupa kehed (baca: kè-hèd) dalam bahasa Sunda? Lengkapnya, “Kehed, sia!” Kasar. Tetapi ada yang bilang, kehed pada mulanya adalah sebutan untuk penis.

Oh ya, ketika dulu muncul jenama Damned! I Love Indonesia milik Daniel Mananta, saya juga biasa saja.

Kembali ke Ngehe, kenapa saya menuliskannya untuk posting? Tempo hari seorang ibu, pensiunan, akan berbekal termos Ngehe untuk rapat majelis di gereja. Suaminya cuma bilang, “Hussss… jangan. Daripada dibaca orang-orang muda.”

Termos cap Ngehe dari makaroni pedas Ngehe

¬ Bukan posting berbayar maupun titipan

Seterika Benetton Dagadu