• Lama baca: 2 menit →

Roti gambang Tan Ek Tjoan sejak 1920

Aneh juga, selama likuran tahun bermukim di kompleks yang sekarang, saya belum pernah beli roti gambang maupun tawar cap Tan Ek Tjoan. Kok bisa?

Pak Roti selalu lewat malam, sekitar setengah delapan, padahal roti lain lewat sore sekitar pukul empat. Roti Djoko Pondokgede itulah yang lebih sering saya beli.

Roti gambang Tan Ek Tjoan sejak 1920

Lalu dari mana saya beroleh roti gambang? Di luar kompleks. Salah satunya, tapi jarang, ya di Tan Ek Tjoan Jalan Panglima Polim IX, Jaksel.

Soal rasa dan nostalgia, sebagian Anda yang bermukim di Jabodetabek bisa bersaksi tentang roti jadul ini, termasuk orangtua dan kakek nenek Anda.

Roti gambang Tan Ek Tjoan sejak 1920

Pertanyaan saya untuk Anda, dan juga saya sendiri, apakah rasa sekarang sama dengan gambang versi dahulu?

Beda lidah beda cerita. Saya sih merasa beda. Ada yang berkurang namun saya tidak bisa menyebutkan. Rasa gula merah masih ada. Begitu pun kayu manis.

Saya mencurigai diri sendiri. Perjalanan usia mungkin mengurangi kepekaan lidah terhadap rasa. Tapi bisa juga jelajah cicipan membuat lidah saya menyerap aneka perbandingan. Tak hanya terhadap roti gambang tetapi terhadap umumnya makanan dan camilan.

Pencecapan kita sering kita latih tanpa sadar. Misalnya toleransi terhadap sambal yang cenderung meningkat. Untuk penyuka durian, pengenalan yang semakin beragam membuat lidah lebih pintar dan rewel. Saya sih bukan maniak durian.

Terhadap bacaan, film, musik, seni pertunjukan, seni rupa, dan lainnya — dari audio sampai fesyen, untuk orang tertentu — juga sama. Semakin banyak paparan dan serapan maka semakin luas pengalaman apresiatif kita. Bisa saja apa yang dulu kita anggap bagus ternyata sudah terkalahkan oleh hal lain. Atau bisa juga apa yang dulu kita nilai jelek ternyata memiliki keindahan yang baru kita kenal belakangan.

Kita? Oh, maaf. Maksud saya ya saya sendiri.

Roti gambang Tan Ek Tjoan sejak 1920

Eh, tiba-tiba saya teringat sesuatu. Jangan-jangan terhadap lawan jenis juga berlaku hal serupa. Lebih dari sekali saya mendengar dari perempuan yang berbeda tentang keheranan terhadap diri sendiri.

Misalnya, “Kenapa ya dulu cowok kayak dia udah gue anggep keren?”

Mungkin pria yang mereka maksudkan juga berpikir serupa. Terhadap lawan jenis maupun sejenis.

https://blogombal.com/wp-content/uploads/2021/06/wp-1622675125518-700x700.jpghttps://blogombal.com/wp-content/uploads/2021/06/wp-1622675125518-150x150.jpgPemilik BlogUmumapresiasi,camilan,cita rasa,fesyen fashion,hidangan,jadul,kudapan,kuliner,makanan,masakan,nostalgia,nostalgila,penganan,roti gambang,selera,tan ek tjoanAneh juga, selama likuran tahun bermukim di kompleks yang sekarang, saya belum pernah beli roti gambang maupun tawar cap Tan Ek Tjoan. Kok bisa? Pak Roti selalu lewat malam, sekitar setengah delapan, padahal roti lain lewat sore sekitar pukul empat. Roti Djoko Pondokgede itulah yang lebih sering saya beli. Lalu dari...Suatu atau sebuah blog?