
Tadi sore dalam gerimis sebagai jeda hujan tiada henti seharian, saya amati kerakal di tembok tinggal empat butir. Kerakal ebih besar daripada kerikil. Silakan tengok KBBI. Kerakal tinggal empat butir. Entah ke mana yang lain.
Saya ingat, susunan empat batu kecil itu saya pakai Desember lalu untuk ilustrasi ucapan Natal 2025. Saya sandingkan batu itu dengan potongan bata yang saya temukan di belakang tiang listrik depan rumah. Biasa, ide dadakan setiap hari raya. Masih memotret benda pada zaman AI generatif.

Selama dua pekan lebih bulan Januari ini saya jarang di teras sehingga tak tahu bahwa kerakal lain sudah raib. Mungkin yang berukuran kecil terdorong air hujan, jatuh, lalu menggelinding entah ke mana.
Batu-batu itu saya temukan di jalan, saya bawa pulang, lebih dari sekali. Hal itu bermula dari mencari batu kecil untuk membuat ilustrasi semacam infografik tentang cara menunda kebelet BAB dalam perjalanan dengan mengantongi batu di celana.
Yang pasti di kompleks saya sulit menemukan kerakal, apalagi yang bukan hasil pemecahan batu. Lebih mudah menemukan pecahan ubin keramik dan pecahan beton.

Setahu saya jarang anak kompleks bermain ketapel, dan jika pun mereka melakukannya tak mungkin sampai menghabiskan batu. Kini gang-gang di kampung sekitar saya dibeton, saya jarang menjumpai batu kecil. Andai kata saya melihatnya, akan repot membawanya karena tak naik sepeda. Dulu, saat masih bersepeda, kerakal saya masukkan kantong pada setang.

Di halaman rumah Yogyakarta, dan dulu di Salatiga, ada batu kerakal. Bahkan di Salatiga, akses masuk sejak pintu gerbang hingga garasi di samping belakang rumah, berupa jalur berkerakal. Kini halaman berkerakal digemari lagi.

Kini kerakal tinggal empat. Akankah saya memungut batu kecil yang saya jumpai? Entah. Barangkali di halaman dan jalan depan rumah Anda ada? Saya malas membeli kerakal kiloan di lokapasar daring. Masa sih untuk mengenyahkan daki harus sekali pakai sehingga butuh banyak batu.

4 Comments
Rasanya saya perlu memfoto deretan batu yang pernah saya pungut juga :))
Selain karena bentuk yang bagus, ada beberapa batu yang mengandung unsur besi. Warnanya kemerahan dari karat yang muncul dan bereaksi dengan magnet meski tidak sepenuhnya menempel.
Perlu itu.
Saya pernah ambil batu dari tambang emas tua Cikotok yang saat itu masih aktif. Masuk ke sumur pakai lift tanpa dinding, lalu masuk ke lorong dalam gunung, eh bukit, pindah ke lorong di atasnya, dan akhirnya keluar dari gua, sudah ditunggu Land Rover
Baru tahu batu kali bisa untuk membersihkan daki. Saya kira batu untuk merawat kulit cuma batu apung..
Dulu begitu, zaman body care belum banyak 😁