Foyer: Kelegaan ruang singgah singkat

Saya manusia lama: tak betah tinggal dalam gedung tinggi, seperti di indekos, asrama, dan hotel.

▒ Lama baca < 1 menit

Foyer apartemen Sky Terrace Lagoon Condo, Daan Mogot Baru —  Blogombal.com

Sore pukul 17.15, dua pekan lalu, ruang antara lobi dan koridor sebuah apartemen di Kalideres, Jakbar, itu lengang. Lalu datang seseorang, duduk sendirian. Foyer itu tak banyak tempat duduk. Ada yang berupa bangku minimalis panjang dekat lalu lintas menuju lorong. Bisa memuat sepuluh orang lebih. Kalau mau, duduk di atas buk panjang berlapis marmer, yang memepet jendela kaca tinggi, juga bisa. Selama saya di gedung itu, foyer selalu kosong. Nyaman. Aman. Tidak ada orang. Tetapi ada satpam.

Di atas ruang lega itu ada mezzanino. Saya merasakan sebuah kontras hunian yang tentu berkelindan dengan ekonomi. Banyak orang berdesakan dalam permukiman padat, dengan jalinan gang sempit, namun ada pula area hunian dengan jalan lebar bisa dilewati tiga empat mobil dari masing-masing arah.

Foyer apartemen Sky Terrace Lagoon Condo, Daan Mogot Baru —  Blogombal.com

Itu tadi jika dibandingkan dunia eksternal dalam atmosfer ruang besar hunian urban. Adapun dari dunia internal, dalam apartemen, unit tipe studio yang bagi saya sempit, padahal rumah saya kecil, voyer terasa sangat lega, bisa menjadi semacam oase.

Hampir sepekan saya di apartemen itu karena mengungsi agar dekat dengan rumah sakit. Memang keamanan lebih terjaga, namun saya masih orang udik Indonesia lama: membayangkan takkan betah tinggal dalam rumah susun, apa pun jenis dan kelasnya, karena saya adalah manusia rumah tapak. Semungil apa pun rumah, jika keluar dari pintu masih di bumi, membuka jendela lantai bawah tak takut terjungkal.

Foyer apartemen Sky Terrace Lagoon Condo, Daan Mogot Baru —  Blogombal.com

2 Comments

mpokb Jumat 23 Januari 2026 ~ 00.29 Reply

Tinggal di hunian vertikal, lalu dapat tetangga atas yang berisik, sungguh tidak nyaman, Bang Paman. Entah bagaimana kalau kondominium premium, soale belum pernah hehe.

Pemilik Blog Jumat 23 Januari 2026 ~ 08.37 Reply

Saya pernah bertamu ke sebuah apartemen dengan enam atau lebih tower, unitnya lega, suara piano dari unit sebelah terdengar. Mungkin karena gak pake studio kedap suara. Kalo latihan drum analog entah bagaimana.

Dulu banget zaman saya bocah baca teks dagelan kehidupan di flat Barat. Lansia keganggu tetangga sebelah belajar gitar. Akhirnya si kakek bisa menghentikan latihan dengan membayar setiap dawai, mahal.
Esoknya si nona berganti harpa.

Eh saya pernah bertandang ke unit apartemen di Jakarta yang bukan penthouse, tapi luas banget, ada tiga kamar besar, kamar mandi ada lebih dari satu. Relatif kedap suara. Kalo tuan rumah punya hi-fi kayaknya gak ganggu tetangga

Tinggalkan Balasan