
Saya lupa sebelum Rp10.000 per potong, berapa harga terakhir roti gambang Tan Ek Tjoan (TET) yang bermarkas di Bogor, Jabar. Jam edar gerobak kayuh TET, dengan klakson angin berbola remas, adalah bagian dari irama pagi. Gerobak itu lewat depan rumah saya antara pukul 06.30 hingga 07.00, sama dengan tukang sol sepatu.

Saya belum tahu jam berapa roti TET tiba di Pondokgede dan sekitarnya untuk segera diedarkan. Dapur yang di Cikini, Jakpus, sudah tutup; yang di Ciputat, Tangsel, masih ada (Kompas.com, 19/6/2026). Saya lupa menanya Pak Pendi, penjualnya, mengapa malam hari saya kini jarang mendengar suara klakson itu.

Saya terakhir membeli roti gambang itu Februari 2025, bukan dari gerobak melainkan in situ, di tokonya di Bogor. Hanya membeli satu gambang, minum air putih, mengudap di kursi dan meja yang disediakan. Tak ada menu selain roti. Gerai es krimnya tutup.
¬ Arsip 2021
Di area saya masih ada beberapa penjual roti keliling. Ada yang dengan gerobak kayuh, sepeda, sepeda motor, maupun mobil. Rasa-rasanya sih jumlahnya menyusut. Atau frekuensinya yang berkurang. Adapun jenama kuat yang masih beredar adalah TET (gerobak), Sari Roti (sepeda), dan Djoko Bakery (lokal, mobil).

Saya berpikir sampai kapan roti keliling bertahan, karena untuk Sari Roti ada di minimarket, dan itu pun bersaing dengan merek lain. Di sisi lain, dengan maupun tanpa berkeliling, juga terlepas dari hadir di minimarket atau tidak, para pemain lama berhadapan dengan regenerasi konsumen dan merek baru.
TET ada sejak 1920, usianya seabad lebih. Saya tak tahu apakah bagi generasi Z citra roti legendaris masih meresap dalam selera mereka. Ya, soal citra yang menjadi klaim diri itu.
Roti legendaris Jakarta, yang juga punya roti gambang, adalah Lauw, sejak 1940. Lauw disukai Bung Karno, sedangkan TET digemari Bung Hatta.

Adapun pemain berjenama kuat yang muncul 1970-an hingga kini masih berjaya. Cabang Holland Bakery (1978) banyak, awal tahun ini menambah gerai di area saya. Sedangkan Monami, milik grup Melawai, hingga kini jajan pasarnya masih menjadi andalan rapat kantor — entahlah untuk kantor yang mayoritas orangnya adalah generasi Z. Regina’s Jakarta masih ada namun kesan saya hanya diakrabi orang tua.

Jika menyangkut rasa dan selera dalam bisnis, ada persoalan penting yakni strategi pemasaran, di dalamnya termasuk branding. Biarlah mereka yang ahli dalam soal itu yang mengulasnya. Oh ya, Roti Buana di Jakarta yang bermula dari Makassar, Sulsel, 1990-an sudah mengubah logo lebih memuda, seperti Monami, ditambah jualan kopi.
Oh ya, soal di atas juga menyangkut blog. Banyak bloger berhenti antara lain karena jumlah pembaca menyusut. Warganet tak punya waktu untuk membaca, padahal sehari tetap 24 jam, dan di sisi lain konten cerita berupa gambar, juga dalam salindia, dan terutama video pendek, lebih menarik.
Soal lain ya usia. Lho usia siapa? Usia si bloger maupun pembacanya. Sudah sama-sama menua, pilihan presensi digital lebih banyak, termasuk dalam aplikasi perpesanan macam WhatsApp dan Telegram.

Dari sisi pembaca lama, termasuk yang bekas bloger, membaca teks itu melelahkan. Kalau soal cerita diri, bagi kalangan tua Facebook sudah cukup dan itu pun tak semuanya sempat mereka baca.
Sementara bagi generasi milenial dan Z, blog semacam blog wagu ini tentu tak relevan. Bagi orang seangkatan saya, yang belum tentu sebaya di blogosfer (istilah ini terasa arkais sekarang) saja blog ini membosankan apalagi bagi kaum muda.
Mungkin ada yang menganggap cara bertutur saya sangat tuwir, apalagi sering merujuk masa lalu. Tuturan di blog ini kalah enak dibaca jika dibandingkan media berita daring. Saya mengakui. Blog ini macam roti gambang. Tetapi saya nyaman.
Catatan:
Ada juga alasan lain berhenti ngeblog: buat apa menulis dan mengunggah gambar kalau yang membaca hanya bots, itu sama saja ngeblog dengan menulis dan memotret sendiri cuma untuk ngempanin AI dan menyediakan kebun untuk spammers.


One Comment
blog ini masih tetap menyenangkan kok, paman. sama halnya saya yg masih suka roti gambang tet itu. kalo ke Jakarta saya suka menginap di sekitaran Cikini, karena banyak penjualnya mangkal di sepanjang jalan itu