
Duit itu perlu. Without duit we can’t do it. Jangankan untuk gerakan sosial ini itu, untuk senam 20 orang juga butuh uang, misalnya seragam, dan setidaknya fasilitas; dari halaman balai RW sampai pelataran supermarket sebelum toko buka.

Maka ketika ada kabar bahwa delegasi BEM FH UBK yang bertemu wapres itu sebelum berangkat sudah menerima uang dari pihak yang dianggap mewakili pemerintah, ramailah tanggapan.
22 Juni 2026
– Kampus UBK ricuh dan mahasiswa sidang BEM
– Abdi buka suara & mengaku di depan seluruh mahasiswa
– Uang suap diterima sebelum 15 juni dari oknum polisiKata si Abdi pembagian uang suapnya:
1. Ketua BEM FH sebesar 6 jt
2. Wakil Ketua BEM sebesar 2.5jt
3. Ketua BEM… pic.twitter.com/EJ4cAyPXBj— Si Paling Gen Z (@txtdarigenz97) June 23, 2026
Duduk maupun berdiri soal saya tidak tahu. Soal berapa nilai rupiah dan dari siapa juga masih simpang siur. Jadi, urusan duit untuk gerakan memang peka.
Maka saya kutip ucapan rekaan tokoh fiktif si Saya di tengah sebuah demonstrasi pro-MBG dalam pos kemarin:
“Masyarakat kita ini suka gotong royong, apalagi kalau ada perasaan senasib. Wajar kalau ada yang bantu bikin spanduk dan alat lain, juga makan minum. Mahasiswa yang demo menentang MBG dan mengkritik Presiden Prabowo juga dibantu segelintir warga masyarakat, kan? Bedanya kepentingan pihak yang membantu itu belum tentu sama dengan mahasiswa. Sudahlah, soal bantuan dan fasilitas itu nggak usah dibesar-besarkan. Oke?”
Saya sejak muda bukan orang pergerakan. Tetapi semua orang paham bahwa bantuan duit, in natura, maupun fasilitas itu bisa sensitif. Bagi siapa? Bagi yg orang sekaum maupun pihak luar, terutama di seberang.
Dulu mobil jip Wrangler Rubicon yang dinaiki Ketua Umum FPI Rizieq Shihab dalam pawai 2013 menjadi sorotan karena terkesankan mewah. Mobil putih berpelat B-1-LPI itu milik seorang pengusaha.

Adapun mobil Rizieq adalah Mitsubishi Pajero Rizieq B-1-FPI. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan pelat nomor khusus. Peraturan membolehkan. Nomor rangka kendaraan bermotor (NRBK) satu angka, tanpa huruf di belakang, bayar Rp20 juta. Kalau satu angka disusul huruf bayar Rp15 juta (¬ Detik, 10/11/2020).
Siapa bantu siapa, dan berupa apa, bisa penting bisa tidak, tergantung pada konteks. Bantuan dapur ibu-ibu saat mahasiswa menduduki Kompleks Parlemen, 1998, dianggap mulia, mewakili aspirasi mayoritas masyarakat. Begitu pun demo besar yang melintasi Malioboro, Yogyakarta, menjelang Soeharto jatuh, Mei 1998, mendapatkan bantuan minuman dan jajanan dari warga.
100K/orang 🤣 pic.twitter.com/NkR7u4ywUl
— Edy Bayo Regar (@regar_op0sisi) June 23, 2026
Sedangkan mahasiswa dalam demo menentang MBG membawa bekal sendiri, tetapi demo tandingan warga non-kampus yang pro-MBG menerima uang, roti, susu kotak, dan alat masak.
Bantuan maupun ban nyonya (menurut dagelan jadul S. Bagio tahun 1970-an) bisa dari siapa saja, tergantung acara dan skala kegiatan karena menyangkut bujet, dan dalam urusan tertentu bertaut dengan UU dan etika.
Maka adakah pengusaha perusak lingkungan yang dalam Pilpres 2024 dan Pilkada 2024 menyumbang kandidat? Lalu siapa saja pengusaha besar yang membantu PSI pada awal bergerak sebagai partai baru?
