Kopi luwak, antara pemahaman dan mitos

Apresiasi terhadap kopi itu sangat subjektif dan personal, namun gaya hidup dan pergaulan kadang menggiring kita jadi sok ahli.

▒ Lama baca < 1 menit

Kopi luwak, antara pemahaman dan mitos — Blogombal.com

Saya beroleh bingkisan biji kopi luwak. Matur suwun. Kemasannya cantik. Sesuai teori komunikasi pemasaran, kopi ini juga menyertakan cerita seperti kopi lain dan batang cokelat berkemasan cantik agar konsumen bertakzim. Rasanya enak. Lebih enak daripada yang saya coba di sebuah kedai, tanpa gula tiada usapan rasa manis, seperti terlalu gosong sangrainya, dan keasamannya tinggi. Menurut lidah saya begitu.

Kopi luwak, antara pemahaman dan mitos — Blogombal.com

Saya penyuka kopi. Namun saya harus jujur tak berani mendaku penikmat kopi sepenuh apresiasi karena saya bukan coffee aficionado. Jadi, misalnya saya diminta melakukan cupping, atau pencicipan rasa kopi, saya setelah itu tak dapat bercerita. Hanya menghidu biji atau bubuk maupun kopi pun, apalagi mencicipi minuman kopi, saya tak dapat menebak itu kopi apa beserta kisah di baliknya.

Kopi luwak, antara pemahaman dan mitos — Blogombal.com

Mungkin saya memang udik. Padahal ada orang yang menyebut dirinya penikmat dan pencicip kopi maupun minuman anggur, namun tak punya koleksi biji kopi dan wine di rumahnya.

Kopi luwak, antara pemahaman dan mitos — Blogombal.com

Berarti dia hebat. Namun yang penting, kata dia, “Ini soal sosial, pergaulan. Kita nggak perlu jadi ahli, yang penting paham istilah dan stories dan legends tentang hal itu.” Oh, baiklah. Terbukti di media sosial dia tercitrakan paham kopi dan anggur. Selalu ada swafoto sedang ngopi bareng nge-wine bareng. Tip dia, “Dengan siapa kita selfie itu menentukan value kita. Bisa dikapitalisasi.” Ehm.

Kopi luwak, antara pemahaman dan mitos — Blogombal.com

Lalu tentang kopi luwak bijimana? Kata yang ahli, biji kopi luwak liar, dari hasil memunguti biji terbalut feses di tanah, itu lebih bagus dan enak dibandingkan biji kopi luwak tangkaran yang menelan biji karena diberi, bukan memilih sendiri. Saya sih tidak dapat membedakan rasanya. Dari sisi lingkungan juga lebih bagus kopi dari luwak liar (¬ FNB.coffee, 2024).

2 Comments

mpokb Sabtu 18 April 2026 ~ 02.58 Reply

Waa, mewaaah.. Luwak makan biji kopinya arabika atau robusta, Bang Paman?

Pemilik Blog Sabtu 18 April 2026 ~ 12.38 Reply

Arabika, Mbak Mpok. 😇

Tinggalkan Balasan