
Saya berharap Pemprov DKI Jakarta dapat mengendalikan populasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) yang mengganggu keseimbangan lingkungan. Ikan dari Amazon, Amerika Selatan, ini invasif, cepat berkembang biak, rakus menggasak pakan ikan lain, bahkan memangsa ikan lain yang merupakan warga endemis karena menghuni sungai lebih dahulu.
Ketika air sungai kian buruk, sehingga mematikan sisa populasi spesies lain, yang bertahan adalah ikan sapu-sapu karena daya tahan mereka tinggi. Sapu-sapu juga gemar melubangi tanggul sungai. Namun jika di sebuah sungai banyak sapu-sapu mati berarti tingkat pencemaran di situ sudah amat tinggi.

Masalahnya, apakah wilayah administratif di luar Jakarta juga mengendalikan sapu-sapu? Semua makhluk hidup selain manusia tak mengenal batas wilayah pemerintahan. Sapu-sapu yang mulanya untuk membersihkan lumut akuarium akhirnya lolos ke perairan sungai.
Saya ingat cerita yang tak dapat saya pastikan kebenarannya. Saat Krismon 1998, anak-anak dan ortu siswa sebuah sekolah di Jaktim, di pinggir Kali Sunter yang merupakan perbatasan Pondokmelati, Kobek (Jabar) dan Lubangbuaya, Cipayung (DKI), ramai bercerita tentang penjual siomay keliling yang memanfaatkan ikan sapu-sapu dari sungai sebelah sekolah.
Hingga kini masih ada kabar bahwa predator sapu-sapu adalah tukang siomay. Semoga kabar itu tak benar. Ada juga kabar, sapu-sapu bisa jadi abon ikan (Kompas.id, 6/2/2026). Memang sih saya pernah melihat orang menangkap sapu-sapu hitam di sungai, kata penangkap itu untuk pakan ternak. Entah ternak apa. Ada juga yang bilang untuk umpan memancing.

Menurut pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Dr. Charles PH Simanjuntak, di Amazon sapu-sapu punya predator alami. Misalnya ikan common snook (Centropomus undecimalis), ikan tarpon (Megalops atlanticus), buaya spectacled caiman (Caiman crocodilus), dan burung neotropic cormorant (Phalacrocorax brasilianus).
“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” kata Charles (Berita, IPB University, 14/4/2026).
Dia menyarankan, sapu-sapu yang menjadi target utama penangkapan adalah yang kecil, berukuran kecil, kurang dari 30 cm. Sapu-sapu yang masih kecil (23,9–28,99 cm untuk jantan dan 13,0–25,98 cm untuk betina) sudah berkembang biak sehingga mempercepat siklus invasi.
Dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun.
Kata Charles, “Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan (persentase kelangsungan hidup) bisa mencapai lebih dari 90 persen.”
Sapu-sapu tangkapan, kata dia, harus dimusnahkan. Tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi karena sapu-sapu berasal dari sungai yang tercemar logam berat.
¬ Video: Arief Kamarudin, pemburu ikan sapu-sapu Sungai Ciliwung
