Koin rupiah: Mungkin masalah, mungkin juga bukan masalah

Uang logam masih merupakan alat pembayaran yang sah. Tapi kenapa orang menukarnya ke uang kertas?

▒ Lama baca < 1 menit

Menukarkan koin dengan uang kertas di minimarket Komsen, Jatiasih, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Sepekan sebelum Lebaran, saya melihat seorang pria sedang menata uang logam untuk dia tukarkan kepada kasir minimarket. Karena ini bukan di minimarket yang saya akrabi, saya tak tahu dia siapa. Namun tampaknya dia dan kasir sudah akrab.

Tentu pria itu akan menukar koin dengan uang kertas. Mungkin dia Pak Ogah, mungkin pula pengamen. Kalau dia penjual makanan atau minuman, justru butuh koin untuk uang kembalian. Tetapi apa yang dia jual sampai punya banyak koin?

Masalah uang logam rupiah — Blogombal.com

Saya beberapa kali menulis soal koin. Intinya, koin bisa merepotkan dalam sejumlah hal. Misalnya, kalau banyak Rp100-an dan Rp200-an akan sulit bagi kita untuk membeli apa saja, kecuali kita punya dompet khusus yang tidak bisa bisa masuk kantong celana.

Kita akan menukar uang kertas ke koin Rp500-an dan Rp1.000-an juga sulit kecuali di bank tertentu. Lik Jun di Sala punya tip untuk mendapatkan receh bagi kepentingan kedainya.

Masalah uang logam rupiah — Blogombal.com

Artinya ada solusi untuk masalah koin, atau malah bisa dibilang koin bukanlah problem, apalagi setelah ada pembayaran nirtunai. Jadi, cincai saja. Bahkan kita kehilangan koin di bawah Rp500-an pun rela karena tak berharga.

Apakah kerepotan kita dengan koin karena nilai rupiah terus merosot? Indonesia (IDR) tak punya pecahan terbesar macam USD 100 dan EUR 200. Kalau pecahan terbesar kita IDR 100, dengan nilai tukar hari ini, menggunakan selembar uang sekian bisa beli apa? Untuk melakukan redenominasi harus mempertimbangkan banyak hal, dan tidak bisa mendadak.

Masalah uang logam rupiah — Blogombal.com

Tentang ringkasan riwayat nilai tukar rupiah, sila baca artikel Historia (2020). Termaktub di sana:

“[…] pemerintah pada 7 Maret 1946 mendevaluasi nilai tukar rupiah sebesar 29,12% dari Rp1,88 per dolar AS menjadi Rp2,65 per dolar AS.”

8 Comments

Junianto Jumat 27 Maret 2026 ~ 12.19 Reply

Anak cowok saya yang sudah menikah usahanya wedangan. Kapan hari dia bilang, nyari ijolan koin Rp 500 lebih sulita daripada koin Rp 1.000 padahal dua lebih membutuhkan koin Rp 500 untuk susuk di wedangannya. Meski begitu dia selalu dapat ijolan karena punya beberapa sumber.

Saya sendiri belakangan sering dapat banyak koin Rp 500 dan Rp 1.000 dari orang-orang yang ngijolkan ke warung makan istri saya (termasuk beberapa bakul istri saya). Pernah juga dapat koin Rp 1.000 (dalam jumlah banyak, lebih dari Rp 1 juta) dari KCP BCA tak jauh dari rumah.

Untuk uang kertas Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000 dan Rp 20.000 gampang saya peroleh dari Bank Bumi Arta Cabang Solo (stoknya melimpah/saya bukan nasabah) dan BCA yang saya sebut di atas. BCA saya gampang dapat karena sebagai nasabah saya punya hubungan baik dengan para karyawan, dan karena pengaruh istri saya😁.

Pemilik Blog Jumat 27 Maret 2026 ~ 18.00 Reply

Lik Jun memang tobbbb 👍👍👍👏

Pemilik Blog Sabtu 28 Maret 2026 ~ 12.49 Reply

Tobbb kabèhé. Bisa belanja nangka, alpukat, kembang, nukar ke receh, numpak trail 👍👏
Lha daripada saya, ndak punya motor, naik sepeda sudah gak bisa

Zam Kamis 26 Maret 2026 ~ 13.24 Reply

jadi ingat punya wadah berisi uang koin sen yang bingung mau diapakan, terutama yang tembaga (1 sen). biasanya bisa ditukar ke vending machine jajanan, tapi kudu niat sekali

Pemilik Blog Kamis 26 Maret 2026 ~ 14.19 Reply

Oh iya ya! Vending machine camilan. Indonesia harus punya. Soal daya tampung koin, tinggal meniru mesin jackpot.

Sayang penjualan rokok ketengan dilarang, padahal bisa jualan di vending machine, tapi sigaret wrapped dengan gerenjeng.

Tinggalkan Balasan