
Iklan dukacita atas berpulangnya Michael Bambang Hartono (1939–2026) dari induk perusahaannya, Djarum, di Kompas (Senin, 23/3/2026) bagi saya menarik karena biasa. Hanya ada nama keluarga, termasuk keluarga adiknya, Robert Budi Hartono beserta anak-anaknya. Almarhum adalah orang tenar, demikian pula bendera usahanya sehingga publik sudah tahu sosok dan jaringan bisnisnya, termasuk BCA.
Ke-biasa-an berikutnya yang lebih menarik perhatian saya adalah tak ada iklan lain, dalam ukuran besar di koran, dari aneka perusahaan yang terafiliasi maupun tidak dengan keluarga almarhum. Saya tak tahu bagaimana iklannya di koran Bisnis Indonesia.
Memang ada iklan lain, separuh halaman, dari grup usaha di bawah Djarum, yakni dari Blibli-Tiket. Grup itu bagian dari PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), yang berinduk ke PT Global Digital Prima (GDP Venture), sayap investasi bisnis digital Djarum.

Tentang almarhum, sudah banyak diulas di media berita dan terutama media sosial dengan sentimen positif. Citra Pak Bambang itu baik. Saya tak mengenal dia secara pribadi, bertatap muka pun belum pernah, tetapi dari seorang petinggi Djarum yang mengawal bisnis digital pimpinan Martin Basuki Hartono, saya pernah beroleh aneka cerita baik tentang duo Bambang-Budi.
Dulu nama kakak beradik Hartono itu kurang dikenal luas. Setelah masuk ke dalam daftar pembayar pajak terbesar di Indonesia barulah khalayak awam sadar ada orang kaya selain Sudono Salim.
Ketika majalah Jakarta Jakarta menjelang akhir 1980-an menampilkan laporan wawancara khusus dengan Bambang, dengan foto di sampul, banyak orang membatin dia itu siapa. Hal itu serupa saat majalah Editor pada akhir 1980-an menampilkan Ibrahim Risjad, satu dari The Gang of Four konglomerat Indonesia.
Kembali ke soal iklan dukacita, ya. Ketika internet belum marak, iklan dukacita pengusaha besar adalah bahan riset bagi media. Ada seorang editor Bisnis Indonesia yang sejak dulu telaten menyimpan iklan duka cita pengusaha, karena di dalamnya ada nama anggota keluarga almarhum, dan iklan ucapan belasungkawa dari perusahaan lain ada yang memuat pertautan bisnis, misalnya posisi almarhum sebagai komisaris, atau sebagai bagian dari dewan direksi. Atau malah posisi almarhum sebagai ayah dari seorang presdir perusahan.
Saat itu informasi lengkap tentang bisnis Indonesia adalah dari Pusat Data Business Indonesia (PDBI), didirikan oleh Christianto Wibisono (1945–2021) pada 1980, yang harus didapat dengan membayar. Data lengkap juga ada di Sigma Research milik Jasso Winarto, seorang wartawan, cerpenis, novelis, penulis skenario, dan sutradara teater serta film.
Kini untuk perusahaan publik, datanya mudah diakses secara daring, dari situs setiap perusahaan sampai situs Bursa Efek Indonesia. Semasa media cetak masih berjaya, buku laporan tahunan korporasi publik tak dapat diakses semua orang dengan mudah.
Lalu kenapa iklan dukacita Bambang tak ramai? Karena media sosial dan aneka konten digital lebih marak. Mungkin ada juga alasan lain, karena keluarga Hartono kurang suka publisitas, dan rendah hati untuk kelasnya, sehingga siapa tahu kalangan binus tak membuat ikan dukacita, lebih baik uang untuk beramal.
Akun Instagram BCA pun tak menyebut pertautan Bambang dengan bank itu. Padahal putra bungsu Budi, Armand Wahyu Hartono, adalah Wapresdir BCA.
Dari iklan dukacita saya juga beroleh gambaran harapan hidup orang Indonesia, yakni sampel orang yang meninggal dalam usia sangat tua. Misalnya Bu Katrina Wanandi (103 tahun) dan Pak Jacobus Triputera Silfanus (100 tahun).
Tentu tak hanya iklan dukacita yang menarik untuk diulik. Iklan sukacita dari seorang konglomerat atas pernikahan seorang putri konglomerat dan seorang putra konglomerat, yang sama-sama memiliki stasiun TV, pun menarik. Antara lain karena telat tiga bulan.

2 Comments
rasanya hanya orang keturunan Tionghoa yang biasa memasang iklan duka cita begini, ya paman..
Tampaknya demikian, termasuk yang ukuran kecil. Tentu suku lain juga ada bahkan ketika Bapak saya meninggal saya bikin iklan kecil di KR berisi ucapan terima kasih. Saya bikin di warnet, eh rental komputer, di Jalan Gejayan Jogja, 1998.