↻ Lama baca 2 menit ↬

Stok koin di warung Padang Tatiana Juo Jalan Kodau Raya, Pondokmelati, Bekasi

Saya tahu tempat menukar koin namun tak pernah kesampaian. Kalau terlalu pagi, uang dia belum banyak. Kalau agak siang sudah panas. Oh, dia siapa? Pak Ogah.

Tentu tak mungkin menukar dari mobil kecuali saya dan dia sudah janjian, sehingga dari jendela dapat berserah terima koin — sama seperti dahulu dia memberi bingkisan seikat rambutan. Artinya saya harus bersepeda ke pertigaan ramai, hampir dua kilometer dari rumah.

Tadi saat makan siang di warung Padang, saya melihat dua mangkuk koin, yang semangkuk masih dalam plastik. Saya tanya Uda Warung, di manakah menukar koin. Ternyata jauh, ke tukang parkir di Kranggan arah Cibubur.

Usai makan saya kayuh sepeda menuju pertigaan yang tadi saya sebut. Saya tahu pasti sudah ganti shift. Artinya koin Pak Ogah edisi siang belum banyak.

Pak Ogah di pertigaan Pondokmelati, Bekasi, Jabar

Setiba di lokasi, sepeda saya parkir di bengkel motor. Lalu saya berjalan ke sudut pengkolan dan berteriak, “Hoiii, Bang! Saya mau tuker koin!”

“Maap, Pak. Baru masuk nih, belum banyak duit,” sahutnya.

Saya tahu masih ada lokasi lain yang dapat dicoba. Lebih jauh sih. Tetap harus bersepeda atau jalan kaki karena saya tak punya motor.

Kini transaksi nirtunai kian sering. Akibatnya uang kertas kembalian Rp1.000 dan Rp2.000 rupiah makin sedikit yang kita pegang, apalagi koin Rp500 dan Rp1.000. Kalau di parkiran ramai sih kita bisa minta kembalian dari tukang parkir.

Saya membayangkan ada mesin penukaran koin seperti ATM dengan setoran tunai. Pasti laku. Tetapi biaya operanalnya pasti mahal. Koin itu berat, lebih membebani komponen bergerak dan baki, tetapi total nilai instrinsiknya rendah. Sekilogram koin Rp1.000-an pasti lebih rendah nilainya dari sekilogram uang kertas Rp1.000-an. Untuk pelayanan masyarakat, mestinya Bank Indonesia memasang mesin itu.

Bagaimana jika mesin jackpot dimodifikasi jadi mesin penukaran koin? Ada biaya tentu. Maka uang kertas Rp10.000 hanya mendapatkan tujuh koin Rp1.000-an.

Dahulu, abad lalu, di halte UKI, Cawang, Jaktim, kondektur Mayasari Bhakti P6 menukarkan uang kertas Rp1.000 kepada inang-inang dapat delapan koin Rp100-an. Tetapi masa sih bank sentral meniru inang-inang?

Rp500 itu bisa buat apa ya?

Penukaran koin cepek

Jadi, Koin ini untuk Apa?

Koin gopek kuning