
Mereka menganggap saya kurang kerjaan, sungkan nganggur. Sebaliknya, merekalah yang saya anggap berlebih waktu sehingga membahas ucapan selamat Idulfitri dari saya pekan lalu.
Di tiga grup WhatsApp yang berbeda, ada anggota yang mengecek apakah gambar dalam ucapan selamat Idulfitri itu foto asli ataukah hasil AI generatif. Mereka menanya ke layanan AI. Jawabannya sama: itu foto asli, termasuk teks dalam tulisan tangan pada kertas, demikian pula foto ketupat dan lontong.
Mereka tak tahu saya punya blog. Ucapan via WhatsApp tak memuat logo Blogombal. Bagi mereka, apa yang saya lakukan itu tidak praktis. Usang. Nggak ngetren. Out of date.
Mereka juga ingat, namun tentu tak menyimpannya, bahwa ucapan untuk Lebaran dan Natal saya selalu menggunakan foto jepretan sendiri lalu saya tambahkan teks dari mengetikkan kata di ponsel.

Bahkan sebelum marak layanan akal imitasi, saya tak menggunakan aset dari bank foto dan ilustrasi, yang tinggal diatur memakai ponsel. Atau tinggal memanfaatkan aset dan templat dari aplikasi ponsel.

Sekali lagi: mereka menganggap saya kurang kerjaan, demikian pula sebaliknya anggapan saya terhadap mereka, sampai mencari tahu keaslian foto.
Ketika ada yang menanya kenapa saya lakukan, jawaban saya karena suka, ini soal klangenan — dan tak merugikan orang lain. Saya tahu bahwa gambar akan segera terabaikan untuk kemudian setiap orang akan menghapusnya. Teks yang panjang untuk ucapan juga akan segera mereka lupakan. Video yang memakan kuota internet dan ruang simpan juga segera mereka hapus.

Ada pula yang bertanya apakah saya tak khawatir akan ada orang yang membawa foto tulisan tangan saya ke ahli grafologi untuk menebak beberapa unsur kepribadian saya?
Aha! Itu pertanyaan aneh. Ada yang lebih praktis, yakni menanya AI — namun saya belum mencobanya karena belum berminat. Bagi saya sih sebodo amat. Gaya penulisan saya di blog wagu ini juga bisa ditanyakan ke AI.

Soal layanan AI, saya tempo hari mencoba lebih dari satu layanan gratis, menanyakan sebuah pos di blog wagu ini hasil AI ataukah tulisan sendiri. Ada yang menjawab itu autentik karya saya, ada yang menjawab mungkin hasil AI generatif yang saya edit dan tulis ulang. Terserahlah. Embuh. Sakkarêpmu.


8 Comments
justru malah unik sekali, paman!
di sini, kartu ucapan masih banyak dijual. dari yang generic macam ucapan “selamat (isi sendiri)”, lahiran bayi, menikah, natal, paskah, bahkan untuk hanya bilang “kamu cantik” aja ada..
Kultur Barat beda. Mereka akrab dengan kertas dan tulisan.
tulisannya rapi, paman
maaf lahir batin paman
Setelah makin tua tulisan tangan merosot karena lebih sering ngetik pakai gawai dan dulu komputer. Ini bisa terbaca karena saya secara sadar berusaha begitu. 🤭🫣
Maafkan saya 🙏
kartu ucapan yang autentik 👍🏻
🙏😇💐
Akal imitasi bisa kayak sotoy dan salah jawab juga yak, hehe.
Ucapan dengan foto sendiri jadi unik banget, Bang Paman.
Btw cetakan kue ku sekarang kebanyakan dari plastik. Senangnya, sekarang masih banyak orang membuat kue ku. Saya sempat mengira nggak ada lagi yang mau buat itu kue, kalah sama pastri dan roti yg diajarkan di sekolah kejuruan.
Paling fatal bagi kemanusiaan adalah Amrik pakai AI berdasarkan data lama, sehingga sekolah Minab di Iran dihajar rudal. Biadab! Trump penjahat perang. 😡
Apalagi keluarga dan kroninya dapat manfaat ekonomis dari agresi ini. Yang baru soal insider trading.