
Hari ini Kompas.id menaikkan, bukan menurunkan, berita berkisah tentang andilan kebo di kalangan masyarakat Betawi. Andilan kebo adalah patungan komunal untuk membeli kerbau, lalu disembelih, dagingnya untuk hidangan Lebaran.
Lalu saya teringat asisten paruh waktu keluarga saya. Dua pekan lalu si Mpok bilang bahwa dirinya dan suaminya untuk Lebaran kali ini tak menjadi koordinator arisan sapi.
Arisan sapi itu seperti andilan kebo. Bedanya, si Mpok dan Abang selama setahun, bukan sepekan sebelum hari-H, menerima setoran tabungan tetangga untuk membeli seekor sapi. Lalu menjelang Idulfitri sapi itu disembelih, dagingnya dibagi sesuai andil masing-masing peserta.
Si Mpok dapat jatah 5 kg daging dan keuntungan rupiah untuk berlebaran. Soal bagian tubuh lain dari sapi, untuk kulit disumbangkan ke musala dan masjid, bisa buat beduk.
Adapun otak, kepala, jeroan, dan lainnya, ada warung makan yang membeli. Hasil penjualan dibagi untuk jagal dan orang-orang yang terlibat dalam pemotongan.
Kenapa Lebaran kali pasutri itu prei? Tak perlu menanya rumput yang bergoyang sehingga sapi jadi keder buat nyamber. Sejak awal mereka sudah menghitung, “Harganya kagak nutup, Pak. Masa ngumpulin duit setahun cuma bakal dapet lima puluh rèbu. Tetangga juga berat kalo iuran kita naikin. Mendingan nggak usah aja di saya daripada capek setahun cuma lima puluh rèbu.”

Kami termasuk penerima manfaat dari arisan daging si Mpok karena setiap Lebaran mendapatkan hantaran. Terima kasih, Mpok.
Oh ya, si Mpok selalu tertawa setiap kali bercerita karena saya atau istri saya menanya anak lakinya, yang bungsu, masih SMP, dapat menu apa dalam MBG kemarin. Tak perlu saya ulang di sini karena tak beda dari keluhan di media sosial.
Beberapa kali istri saya menanggapi dengan kalimat serupa templat, “Padahal kata pemerintah, tiap hari nyembelih sembilan belas ribu sapi lho!” Istri saya lupa, 19.000 ekor sapi, hanya ekornya, itu untuk sop buntut 19.000.000 pekerja.
Dalam hati saya bilang, “Kalo diganti lele, saben hari butuh lima puluh tujuh juta lele.” Saya berasumsi setiap dapur butuh 3.000 ekor lele per hari, padahal ada 19.000 dapur. Untunglah patilnya dipotong dulu, tak masuk ompreng. Kalau sekrup sih boleh.
Eh ya, 19.000 dhapurmu kuwi bisa menampung 19.000.000 pencari kerja.

¬ Pemutakhiran (Jumat, 20/3/2026, 22.31): menurut BGN, per 20 Maret 2026 jumlah SPPG yang telah beroperasi ada 25.020 satuan.


2 Comments
kalo dipikir-pikir, arisan gini tuh perlu mikir cara ngolah dan biayanya ga sih? kayanya lebih praktis dan ekonomis beli di pasar..
Yang namanya guyub sosial berbeda matematikanya.
Dua tiga kali Natal terakhir, karena gak ada tamu, kami malah makan di luar pas tanggal 25. Nggak masak. Praktis.