
Siang tadi hantaran Lebaran itu tiba, dibawa sendiri oleh orang yang memasaknya sejak subuh. Masih hangat, ada semur daging sapi, ketupat, dan lainnya, serta… kembang goyang. Setiap Lebaran keluarga saya mendapatkan.

Saya mengenal kembang dan goyang sebagai salah satu penganan Lebaran setelah dewasa di Kobek, Jabar. Masyarakat Pondokgede dan sekitarnya itu berkultur Betawi. Memang secara administratif mereka tak berdiam di wilayah Jakarta.

Penganan Lebaran yang tak saya jumpai di Jabodetabek adalah madumongso. Ini penganan Jawa, serupa dodol. Ada lagi kue kering berwarna putih, saya tak tahu namanya, dulu ada dalam hidangan Lebaran di Jateng, dan di Pondokgede tersedia di warung dl luar masa Lebaran.

Makin ke sini, kue di meja tamu saat Lebaran hampir sama: nastar dan kastengel. Kadang ada juga kue jahe kering. Kalau ampyang setahu saya tidak ada. Sedangkan kue semprong kadang ada — saya suka yang lipat, bukan gulung, dan tidak muprul seperti egg rolls. Kacang bawang dan emping hampir selalu ada.
Oh ya, beberapa tahun belakangan juga ada buah, biasanya jeruk dan anggur, terutama di meja makan. Bagaimana Lebaran di rumah Anda?

4 Comments
baru tahu soal kembang goyang ini..
kalo diingat-ingat, banyak juga ya penganan khas lebaran.. tiap daerah punya..
Jangan-jangan di Jerman malah ada
Tos, Bang Paman. Saya juga dikasih kembang goyang, tapi warna merah. Rasanya gurih ada manis-manisnya. Pembuatnya kembang goyang memang sabar, karena adonan digoreng satu per satu..huhu..
Itulah bagusnya jika dalam setiap keluarga ada kesempatan anak untuk melihat orang memasak karena memahami proses. Lebih bagus lagi jika tahu bagaimana beras dihasilkan sebelum menjadi nasi.
Lho bukannya ada multimedia yang menjelaskan? Melihat langsung, apalagi menceburkan diri ke sawah, akan memperkaya pengalaman.
Saya dulu nggak paham ada seorang jenderal pecatan yang berlatar keluarga silver spoon akhirnya memimpin organisasi petani. Mendengar penjelasan soal lele untuk lauk dia heran bahkan tertawa. Pakan kudanya mahal sih.