Berapa uang tunai terbesar yang pernah Anda lihat bahkan pegang?

Duit kes keras terbesar yang pernah saya pegang Rp600 juta. Saya pernah terima gaji tunai, ada koinnya.

▒ Lama baca 2 menit

Uang Rp2 miliar dalam kantong keresek — Blogombal.com

Pertanyaan dalam judul itu tidak harus merupakan uang Anda. Bisa uang orang lain. Duit kes, total dalam nilai nominal besar, yang setidaknya Anda lihat langsung, syukur jika berkesempatan meraba bahkan memegang. Saya menanyakan hal itu setelah melihat video uang tunai Rp2 miliar dimasukkan kantong keresek.

View this post on Instagram

Jumlah uang terbesar yang saya lihat, pegang, ikut mencatat tahap demi tahap, adalah uang logam Koin Keadilan. Hitungan sukarelawan secara manual kalah cermat dari mesin di Bank Indonesia. Bank sentral pada awal 2010 secara resmi, dengan berita acara, mencatat Rp615.562.043.

Berkarung-karung koin ada dalam ruang kerja saya dan ruang lain. Saya sampai mblenger. Tak ada yang menjaga. Siapa yang mau membawa karung berat? Lagi pula itu uang publik yang tahap demi tahap capaiannya diumumkan.

Adapun uang tunai kertas yang pernah saya pegang seingat saya tak sampai Rp10 juta, cuma Rp5 jutaan. Uang halal, dengan tanda terima. Itu pun sudah lama banget, likuran tahun silam.

Adapun kabar tentang duit kes keras dalam jumlah gede adalah tentang korupsi. Ada yang diwadahi kardus. Ada gepokan uang dollar AS direndam dalam ember basah, ditumpuki cucian, di rumah seorang pejabat saat digerebek petugas Kejagung.

Ada pula uang yang mungkin dirajang dulu sebelum terdengar kloset dalam kamar tidur seorang pejabat bolak-balik mengguyurkan air, sementara petugas KPK hanya dapat mendengarkan dari luar kamar.

Uang tunai Rp8,11 triliun dalam ekspose Kejagung — Blogombal.com

Uang tunai dalam jumlah besar identik dengan praktik gelap, melanggar hukum. Tempat perjudian gelap dan tempat berkumpul rampok atau maling setelah sukses bekerja termasuk itu. Misalnya tempat judi bukan daring memanfaatkan token yang harus dibeli nirtunai, mungkin tak ada duit kertas dalam jumlah besar.

Serah terima duit tunai jelas kurang terjejak jika dibandingkan transfer antarbank. Maka praktik rasuah (padanan bahasa Malaysia untuk bribery, lalu Tempo mengadopsi sebagai padanan korupsi) dan bisnis abu-abu menyukai yang kontan.

Apakah selalu begitu? Ada juga yang dengan transfer. Investigasi Kompas, Juni 2025, melaporkan seorang bandar pendengung (buzzer) yang bermarkas di sebuah desa di Jateng (Menoreh, sekitar Borobudur?) menggunakan brankas seukuran kulkas mini untuk menyimpan “sejumlah buku rekening bank atas namanya”.

Kompas melaporkan:

Ia mengizinkan Tim Investigasi Kompas memotret salah satu buku rekening bank itu. Terdapat dua transaksi jumbo di buku renening tersebut pada 2024 dan awal 2025. Tahun lalu, uang yang masuk ke rekening Irwan sekitar Rp 6 miliar. Transaksi berikutnya terjadi awal tahun ini dengan besaran Rp 1 miliar.

Mungkin dia salah satu pendengung yang selain punya tim sampai tingkat receh juga mengandalkan teknologi informasi. Beberapa narasumber Kompas menggunakan blok berisi mesin ponsel. Box phone farm dengan komputer rakitan berkapasitas 180 ponsel bisa mengendalikan setidaknya 1.800 akun media sosial.

Namun menurut Kompas ada juga koordinator pendengung yang menerima uang di parkiran gedung, bukan di kafe atau tempat terbuka lainnya. Klien para pendengung antara lain instansi pemerintah dan politikus.

Pemilik brankas tadi mengatakan, “Bisnis buzzer ini syubhat (kondisi ketidakjelasan antara halal atau haram). Tetapi ini kerjaan yang ’mikir’, kok. Saya harus menganalisis data, paham konteks politiknya, harus tahu siapa pihak terkaitnya.”

Baiklah kita tinggalkan pemain duit gede. Saya wong lawas, pernah mengalami menerima gaji dalam amplop kertas dan setruk, ada uang logam nya. Isi amplop tak sampai Rp1 juta.

Dalam setruk ada perincian pajak, potongan 20 persen tebus dokter dan obat keluarga, pemakaian telepon interlokal, cicilan Vespa sangat murah sehingga setelah lunas saya lupa, mengurus balik nama beberapa tahun kemudian. Mungkin perusahaan saat itu termasuk penimbun BPKB motor dan mobil kredit karyawan.

Uang kertas tunai tampak berat, dalam amplop cokelat tebal, saya tak tahu jumlahnya, pernah saya terima dari anak buah seorang developer yang saat itu belum tenar, 1990, di Cafe Venesia, Monas, dan saya tolak tanpa memegangnya.

Kini sang juragan jadi raja properti, pernah tersandung kasus kontroversial yang tak tuntas. Dulu kontak saya dengannya difasilitasi seorang pemuka preman yang kemudian jadi politikus dan petinggi partai besar, serta seorang wakil wali kota.

8 Comments

Junianto Minggu 15 Maret 2026 ~ 05.26 Reply

Sekian tahun silam, saat saya masuk sebuah KCP bank swasta tak jauh dari rumah, saya lihat seorang kawan lama (politikus-pengusaha) sudah mengantre. Ternyata dia menarik tunai Rp 450 juta.

Tatkala tahu kawan tersebut ke bank tak naik mobil melainkan motor matic, saya spontan menawarkan diri untuk menemainya saat pulang. Saya, seperti biasa, naik trail dan membawa ransel.

Akhirnya saya naik trail sambil bawa ransel berisi uang tunai Rp 450 juta, dan kawan saya naik matic di belakang saya. Jarak bank ke rumahnya hanya sekitar dua kilometer, dan lalu lintas lancar.

Urusan selesai, saya pamit, dan ternyata dikasih sangu Rp 400.000.

Saat kemudian bercerita ke istri di rumah, saya malah dimarahi. “Bahaya lho ngono kuwi, nggowo duit atusan juta numpak pit montor! Nek kuwi mau ayah dirampok neng ndalan piye?”

Saya cuma bisa 😬

Zam Jumat 13 Maret 2026 ~ 14.11 Reply

di Eropa, beberapa uang pecahan besar malah ditolak. kalo diterima, biasanya harus ada pengawasan dari supervisi. pecahan tersebut adalah 500€. saya belum pernah pegang. kalo 100€ pernah pegang tapi malah repot membelanjakan. banyak yang males menerima uang pecahan besar.

Pemilik Blog Jumat 13 Maret 2026 ~ 23.11 Reply

Kelak kalo rupiah mengalami redenominasi, uang terbesar mungkin Rp1.000. Sen masih punya harga. Eh apa bisa?

Zam Sabtu 14 Maret 2026 ~ 12.54 Reply

paling males kalo nerima kembalian 1 sen.. hedeeh.. orang sini ga kenal kembalian pake permen..

@sandalian Selasa 10 Maret 2026 ~ 09.23 Reply

Saya pernah ditugaskan mengambil uang cash di ATM untuk gaji rekan-rekan kerja.

Dengan pedenya saya masuk ke salah satu bilik ATM dan menekan angka sesuai permintaan –atau terbesar yang memungkinkan? saya lupa– kemudian baru sadar bahwa saya masuk ke ATM dengan pecahan 20 ribuan saat uangnya keluar dari mesin.

Pulangnya tas saya lebih tebal daripada seharusnya 😀

Pemilik Blog Selasa 10 Maret 2026 ~ 14.07 Reply

Di lantai dasar Bank Mandiri SCBD masih ada ATM berisi Rp20.000. Banyak ATM di sana, gak banyak pengantre. Perlu dicoba ambil gaji sekian juta orang pake Rp20.000.

ATM itu pernah saya poskan Ramadan 2024.

warm Selasa 10 Maret 2026 ~ 07.13 Reply

Tahun-tahun awal saya bekerja masih menerima gaji dalam bentuk uang tunai, walau di tahun 90-an itu gaji masih blm sampai 100 ribu

paling banyak saya bawa uang tunai rasanya sekitar 6 jutaan, sekitar tahun 2004, itu gara-gara ngambil beasiswa saya dan teman-teman di kantor Bappenas di Taman Suropati.

saya lupa habis ngambil uang tsb langsung disetorin di bank terdekat atau dibawa langsung ke Surabaya, yg jelas deg-degan bawa uang sebanyak itu hehe

Pemilik Blog Selasa 10 Maret 2026 ~ 14.16 Reply

Iya bawa duit tunai itu gak ayem. Meski kita bergaya biasa, pake tas biasa, ternyata mitra penjahat yang ada dalam antrean bank bisa tahu yang ambil banyak dan dikit, lalu kasih kode ke teman di luar.

BTW sebelum ada medsos, dua teman sutradara video, beda klien, terima bayaran dalam duit cash dalam tas keresek tanpa tanda terima.

Teman pertama dibayar oleh partai. Teman kedua dibayar oleh cagub atau cawagub, saya lupa, pokoknya cewek. Setelah memimpin provinsi, itu cewek dicokok KPK. Rupanya penyakit keluarga adalah makan suap dan bagi suap. Bapaknya juga kepala daerah.

Tinggalkan Balasan