Rekaman suara burung belum tentu membahagiakan burung

Burung bisa kita pancing berkicau ramai, namun bisa merugikan mereka, termasuk saat mereka momong anak.

▒ Lama baca 2 menit

Mendengarkan rekaman suara burung dari Spotify — Blogombal.com

Semalam hujan, hingga pagi terus merangkak menuju siang gerimis terus membasahi bumi. Sekira pukul setengah sepuluh gerimis usai, mulai terdengar sayup-sayup kicauan burung. Saya ingin lebih meriah, ada kicauan burung lebih banyak, padahal saya tak dapat mengidentifikasi.

Maka seperti yang sudah saya lakukan tiga empat kali, saya putar rekaman kicauan burung dari Spotify di tablet, tanpa bantuan sepiker Bluetooth. Saya setel dengan suara sedang. Mulai ada sahutan. Agak meriah. Saya senang. Lalu saya hentikan.

Sebenarnya yang saya lakukan itu menipu burung atau menipu diri sendiri? Saya tak ingin dan tak suka menerungku burung dalam sangkar maupun mengikat kakinya, karena bagi saya suara indah burung adalah apa yang ada di alam sekitar. Namun saya ingin mendengar suara burung kapan pun saya suka. Saya mengabaikan irama alam.

Burung berkicau atau tidak itu terserah mereka. Naluri mereka lebih tahu kapan dan bagaimana berkicau serta untuk apa mereka lakukan.

Pagi ketika suara burung amat meriah, saya tak memutar musik yang saya sambungkan ke sepiker Bluetooth. Saya lebih suka suara burung. Sama seperti saat berjalan kaki saya tak memasang pelantam suara di telinga karena suara sekitar dalam rute berjalan kaki adalah bagian dari perawatan kesadaran — termasuk ke-ge-er-an menoleh saat mendengar seruan, “Pak! Paakkk!”

Keisengan memutar rekaman burung ini muncul akhir pekan lalu saat saya merasa kicauan beberapa jenis burung tetangga, yang jaraknya berselisih satu rumah dari saya, tak terdengar. Sungguh paradoksal, saya tak suka memenjarakan burung, namun ikut menikmati kicauannya.

Ketika awal pekan lalu saya melayat seorang bapak, yang memiara burung itu, barulah saya tahu dari istrinya bahwa lima dari enam burung di rumahnya satu per satu mati sebelum sang suami berpulang karena serangan jantung.

Tadi saya memutar rekaman burung hanya sebentar. Tak sampai sepuluh menit. Lalu saya hentikan. Saya merasa pancingan saya sudah cukup.

Kemudian saya berpikir apakah yang saya lakukan dengan memutar rekaman itu bijak? Saya cari sejumlah rujukan. Inilah jawabannya: memancing kicauan burung, padahal kita tak paham burung — tepatnya: tak paham setiap jenis burung — malah tidak bagus bagi burung.

Tanpa takaran yang pas, sejak durasi hingga volume dan kesesuaian waktu, burung bisa stres. Burung sedang cerewet belum tentu karena bahagia. Memanipulasi suasana dengan suara palsu bisa mengalihkan perhatian burung saat merawat anak-anaknya. Bahkan karena stres sehingga lemah, burung bisa mudah kalah dalam persaingan.

Memang, burung bisa kebal lalu tak peduli dengan suara palsu, tetapi apakah kita tahu kalau, misalnya saja, perilaku mereka berubah padahal itu mengganggu kesejahteraan mereka dan anak-anaknya? Burung berkicau nyaring dan lama karena tipuan suara lain bukanlah burung yang menjadi diri sendiri.

Saya teringat keisengan saya saat SMA. Kamar saya di belakang, dekat garasi, berbatasan dengan tembok setinggi dua meter dari bagian belakang rumah tetangga sebelah. Tetangga memiara entah burung-burung kecil apa dalam kandang.

Kalau sedang kumat iseng, malam hari saya bersiul-siul bukan menyanyikan lagu. Maka burung-burung rumah sebelah langsung menyambut riuh dengan cuitan, sampai kemudian terdengar suara tetangga menenangkan mereka.

Saat itu saya merasa sedang memomong burung. Membuat mereka bahagia. Padahal mungkin mereka stres, cerewet pada malam hari gara-gara saya.

Saya tak akan memutar suara burung lagi untuk menipu para kukila. Kalau ingin mendengarkan mereka, rawatlah lingkungan untuk mereka. Alam adalah rumah bagi semua makhluk. Tetapi tinggal di permukiman padat tak semua hal dalam kendali kita.

6 Comments

Warm Senin 9 Maret 2026 ~ 04.52 Reply

Ada rumah sarang walet di komplek sebelah, dipasangin suara burung 24 jam kyknya. Kok menurut saya berisik sekali itu, rasanya nyaris tiap sarang walet diputerin suara burung pemancing gitu

Pemilik Blog Senin 9 Maret 2026 ~ 08.24 Reply

Apa gak bosen ya para walet itu? Saya membayangkan suara pancingan itu disetel pada saat yang tepat sesuai kebiasaan walet. Komunitas walet pasti tahu

Junianto Minggu 8 Maret 2026 ~ 21.11 Reply

Sebaliknya, saya selalu memasang pelantam suara di telinga saat berolahraga jalan kaki pagi (kalau sendirian).

Pemilik Blog Senin 9 Maret 2026 ~ 08.22 Reply

Namanya juga selera dan kebiasaan 🫣

Zam Minggu 8 Maret 2026 ~ 16.04 Reply

jadi ingat di suatu kafe di Bandung, ada pemilik kafe “katanya” diminta bayar royalti karena memperdengarkan (rekaman) suara burung..

Pemilik Blog Minggu 8 Maret 2026 ~ 16.55 Reply

Wah ini memang bisa jadi debat. Apakah merekam suara burung sama dengan merekam lagu yang ada penciptanya?

Bagaimana dengan footage burung berkicau, kenapa sebagai video diakui hak ciptanya?

Tinggalkan Balasan