
Di depan pelataran kedai itu ada tiang telepon dibalut karet busa. Tidak keseluruhan tiang, hanya pada ruas yang sejajar dengan tinggi mobil. Buat apa? Supaya aman bagi mobil jika menyenggol.
Memang, mobil sekarang tak hanya memiliki sensor jarak dengan bodi, melainkan juga dilengkapi kamera. Tetapi tetap saja ada risiko menyerempet benda. Umumnya jarak aman hampir 50 cm, padahal dalam praktik jarak kurang dari itu bisa aman.
Tetapi itu dengan catatan jika pengemudi bijak memperkirakan jarak. Kalau jarak sensor dipatuhi, mobil takkan mendapatkan ruang.

Lalu masalahnya di mana? Penempatan tiang. Sering kali lebih dari satu tiang, dan belum tentu pas di depan perbatasan lahan.
Misalnya sebuah rumah berpintu halaman di kanan, pemilik tiang — kalau dulu hanya Telkom — memasang di antara batas lahan di kiri dan sisi terkiri dari gerbang. Ketika pemilik bangunan menggeser titik akses masuk keluar harus menanggung biaya pemindahan tiang. Lik Jun di Sala pernah mengalami. Di media sosial pernah ramai pemilik tanah dimintai uang oleh PLN.

Lalu galian kabel yang berulang kali di banyak tempat kenapa tak mengenyahkan tiang? Karena yang di dalam tanah untuk label lain, termasuk kabel optik, belum tentu milik Telkom.


2 Comments
banyak tiang yang suka bikin perkara, paman.. misalnya, “tiang jaler”..
Sama tiyang whêng 🤣