
Terakhir saya ke gudeg Yu Par, Cibubur, Depok, November 2025, belum ada perubahan visual. Pekan lalu saya ke sana, di kompleks perumahan nyaman, papan nama sudah berubah, diganti baru, tak ada nama Yu Par. Dalam spanduk vertikal menu juga tak ada Yu Par, untuk harga setiap hidangan ditutupi lakban hitam.
Rasa tentu tetap sama, sebelum maupun setelah hanya ada atribut Gudeg Koyor. Ya gudeg, ya selat solo. Namun bagi saya soal lakban pada harga itu menarik sekaligus biasa.

Menarik, karena spanduk masih baru, tetapi harga yang tertera mungkin sudah tak sesuai dengan saat dipasang. Biasa, karena revisi harga makanan itu wajar. Warteg pun demikian karena harga bahan dapur juga merambat naik, apalagi bulan puasa nanti.
Seorang CEO mengingatkan saya, harga warung makan harus naik karena harga bahan makanan juga naik, selain itu upah pekerja harus naik saban tahun, berapa pun patokan dari UMP. Saya ingat zaman tak enak, dilibatkan dalam rapat manajemen bersama BOD, ada rumus COLA tanpa Coca maupun atribut Coke: cost of living adjustment. Pendapatan juragan bisa tak bertumbuh, namun biaya hidup pekerja terus naik.
Saya juga teringat lebih dari satu teman yang semasa menjadi pegawai sangat sadar hak, bahkan kadang cenderung berlebihan, tetapi setelah menjadi wirausahawan kurang peduli kesejahteraan pegawai. Salah seorang berdalih, “Logika karyawan dan juragan beda dong, Mas. Kita harus tahu berposisi di mana sebagai siapa.”

3 Comments
yang lagi rame akhir-akhir ini: dynamic pricing. konon katanya harga ditetapkan sesuai dengan kondisi tertentu, yang konon sangat tidak adil karena bisa abusive, apalagi kalo kriterianya tidak transparan. 🫣
sepertinya kesalahan harganya terlalu signifikan sehingga harus dilakban begitu je
Bisa saja begitu. Jika ya, berarti pemasok teks dan pemeriksa proof yang kurang cermat 🤭