Ada dua kebetulan. Pertama: saya mengeklik iklan sepatu Adidas dalam sebuah situs web, lalu saya menjelajahi isinya untuk iseng, bukan akan membeli, dan menemukan salah satu produk mengandung kulit babi. Dinyatakan jelas di sana.

Kedua: kemarin pesanan saya datang, berupa insole atau lapisan bagian atas dalam sol sepatu, yang berbahan kulit babi, bikinan RRT, untuk sepatu slip on. Dalam etalase lapak di lokapasar hal itu dinyatakan dengan jelas, menggunakan huruf kapital.

Dua kebetulan itu tak berdampak pada diri saya karena saya tak bermasalah dengan babi. Pada 2011 saya memotret etalase Hush Puppies yang membantah produknya berkulit babi, lalu saya angkat ulang dalam NPL (Nemu Posting Lawas) pada 2022, dengan salah satu paragraf menyatakan:
Apakah babi hanya menjadi masalah bagi Muslim? Sebenarnya tidak. Sekte dan denominasi gereja Kristen ada yang mengharamkan babi. Rujukan mereka adalah Imamat 11 dalam Perjanjian Lama tentang daging binatang yang haram dan tidak haram. Soal makanan haram tentu juga ada dalam agama Yudaisme (Yahudi) yang lebih tua dari Kristen. Kerepotan penganut Yudaisme di Indonesia dalam soal makanan sila baca Suara.
Intinya adalah kejelasan informasi dari produsen dan penjual. Memang sih, dalam kemasan insole dan bahkan teraan pada produk dengan bahasa Mandarin tak menyatakan babi.



3 Comments
padahal babi ini hanya haram kalo dimakan. kalo digunakan untuk hal lain, misal kulit yang udah diolah, logikanya sih ga masalah. cuma lagi-lagi, kadang warga ini alergi banget sama namanya babi. yang ada babinya haram. harus dijauhi. tapi hal haram lainnya, misal korupsi, berlaku curang, “tidak masalah”.. 🫣
Produsen RRT ini sekaligus nyuruh kita belajar bahasa Mandarin 😅
Untung seller insole informatif. Soale malas chat klo belanja daring 🙈
Dan untung ada AI.
Mestinya importir menyertakan teks dalam bahasa Indonesia. Ada aturannya.