
Sore tadi pukul lima dua puluh dia berdiri di depan rumah sebelah. Oh, Mas Jangkung. Penjual mi ayam keliling. Selama 2026 yang baru berjalan dua langkah saya belum membeli dagangannya. Pada 2025 saya membeli sebelum tengah tahun.
Mi ayam Jangkung enak untuk kelas penjaja keliling di area saya. Paling enak malah. Semangkuk Rp13.000. Saya tak tahu, oh maaf, lupa siapa nama aslinya karena pernah menanya dia. Namun semua orang menjulukinya Jangkung. Dia lebih pendek dari saya padahal saya tak jangkung.
Sudah likuran tahun dia berjualan. Dia lupa siapakah yang pertama kali menamai dirinya Jangkung. Ini seperti Mas Jepri, penjual sayur di kompleks saya. Nama baru tersematkan begitu saja tanpa selamatan.

Begitu banyak penjual yang akhirnya mengalah, mengikuti pasar yang menetapkan jenama untuk usahanya. Padahal mereka tak menuliskan jenama yang mereka inginkan. Di depan kantor saya terdahulu ada penjual sate kambing dan tongseng yang dinamai Pak Gendut karena tubuhnya. Di sebelah dia ada warung nasi Uuk karena seorang pelanggan menganggap dia mirip pelawak teman Jojon.
Tetapi kini makin banyak penjual makanan yang sejak awal menetapkan jenama diri. Nama Kumis, Gondrong, dan Kribo adalah identitas fisik yang mereka pilih sendiri. Apalagi setelah ada warung pesan antar melalui aplikasi. Adapun stiker nama Mr Jangkung, menurut si empunya gerobak mi, dibuatkan oleh pelanggannya, warga Patria Jaya dekat kompleks saya.


3 Comments
Wa, kelihatan enak mi ayamnya.. Daging ayamnya banyak pulak 😃
Btw hahah jadi teringat Jojon dan Uuk.. Jayakarta 😂
Dulu nggak pernah nggak ketawa lihat mereka. Dengan lawakan jaman sekarang, saya nggak begitu nyambung. Malah netizen sering kali lebih lucu 🙈🙏
Lumayan kok, Mbak.
Sehari sebelum puasa dia mudik, sampai habis Lebaran nanti. Mau pesan? 😇
Lumayan kok, Mbak.
Sehari sebelum puasa dia mudik, sampai habis Lebaran nanti. Mau pesan? 😇
Soal selera humor, kita bersyukur kepada Warkop, Bagito yang berguru ke Warkop (Bagito dulu punya konsultan isu, mahasiswa), dan komedian stand up comedy. Lalu ada Panji.
Saya pernah menanya Doyok, humor yang cerdas menurut dia gimana. Dia bilang, “Mau cerdas gimana, Mas? Saya ngelucu yang nonton lagi mabuk.”