
Misalnya angka harga 11.000, tanpa simbol Rp, pada kaca etalase warung padang itu masih berlaku, tentu menyenangkan. Itu hanya lauk atau nasi dan lauk, lalu apa lauknya? Maaf saya tak tahu karena sungkan bertanya sebagai orang yang kebetulan melintas.

Tetapi andai kata harga nasi dan lauk Rp11.000 di warung Jalan Pasar Kecapi, Pondokmelati, Kobek, Jabar, itu sudah tak berlaku, saya pun memaklumi. Hari gini makan di warung tegal dengan membayar Rp11.000 hanya dapat apa? Tetapi tahun lalu di warung padang dekat saya masih boleh Rp10.000.

Dua belas tahun lalu, pada 2014, saya masih menjumpai pengumuman harga makanan dan mungkin lauk Rp8.000, di warung padang Jalan Raya Kodau, Kobek. Harga segitu saat itu sulit dipercaya karena di warung lain setidaknya Rp10.000 untuk sekali makan.

Akan tetapi saat Covid-19 masih meraja, pada 2021, di warung bersahaja yang kemudian terenyahkan oleh proyek polder, masih ada paket Rp10.000 — sama dengan harga warung padang yang punya dua cabang pada tahun yang sama.
Lebih dari sekali saya memotret harga sekali makan di warung, ditambah mencatat harga seporsi kupat sayur sudah termasuk sebutir telur rebus yang dijajakan dengan pikulan, dalam waktu yang berbeda. Ada bagusnya juga menjadi pria iseng dan punya blog. Ada serpihan kepingan potret ekonomi rakyat pada suatu masa. Kompas mencatat lebih bagus karena merupakan media berita, antara lain dalam laporan anggaran makan siang orang kantoran kian cekak (2024).


