
Siapa Mas Jepri tentu tak penting bagi Anda. Namun bagi saya dia penting karena sudah likuran tahun menjual kebutuhan dapur. Boleh jadi Mas Jepri tak menganggap dirinya penting. Dia menggunakan nama Jepri, nama pemberian dari ibu-ibu yang kini sudah nenek semua.

Bermula dari julukan Jeffrey, versi lain dari nama Inggris Geoffrey, lalu Jefri, dan jadilah Jepri. Dia sendiri menamai tempat usahanya Warung Jepri. Kini tak ada pelanggan yang tahu nama aslinya. Saya pernah menanya nama sejatinya namun setelah itu lupa.

Tepat sebulan lalu, malam menjelang pukul tujuh, saya berserobok dengannya di depan polder, sedang mendorong gerobak, berpindah rumah kontrakan untuk tempat tinggal sekaligus warung. Saya sudah mendengar dia akan berpindah. Ternyata tempat baru, sejauh 200 meter dari lokasi lama, lebih bagus.

Setelah bertegur sapa dan menanya alamat baru, saya meneruskan berjalan kaki. Setelah saya kembali melewati polder, dia belum selesai pindahan, sendirian mendorong gerobak kecil. Selama dua minggu kemudian warung di tempat baru masih tutup. Setelah buka kembali, warung belum seramai sebelumnya.
Hari ini warung sudah mulai bertambah pembeli. “Sudah tambah banyak orang yang tahu, Pak,” kata Mas Jepri. Saat bertegur sapa itu saya tersadarkan oleh satu hal: dia menyebut nama saya. Sekian lama saya yakin dia tak tahu nama saya. Banyak pemilik warung lain tak tahu nama saya, tetapi tentu semua pelanggan tahu nama si empunya warung.
Warung adalah tempat berinteraksi sosial, dengan bertatap muka.

2 Comments
Tukang sayur keliling di kompleks saya dikenal dengan nama si Kumis. Anehnya, dia tidak berkumis. Mungkin dulu dia berkumis, entahlah. Saya tidak tahu nama aslinya siapa. Nyaris saban pagi saya bertemu si Kumis. Saya jalan kaki, dia ngebut dengan motornya.
Lha ya itu.
BTW, tanpa tukang sayur keliling, para ibu repot kalo mau meninggalkan rumah buat belanja, harus ganti daster dst.
Tukang sayur keliling menjemput bola.