Atap sirap, ijuk, ilalang, rumbia di tengah niat gentengisasi

Niat mengganti atap seng semua rumah dengan genting terakota itu lebay. Lebih utama tata ruang dan PGB.

▒ Lama baca 2 menit

Atap sirap di Saung Sari Parahyangan, Kranggan, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Ternyata saya punya draf November 2025. Masih berupa foto tersunting yang saya perkecil ukurannya lalu saya cemplungkan ke CMS. Itu sering saya lakukan. Lebih sering lagi saya malas atau lupa meneruskan draf. Tadi saya temukan draf tentang atap sirap, artinya itu rancangan cerita sebelum ada gagasan gentengisasi — mestinya sih gentingisasi.

Untuk rencana pos itu juga sudah ada beberapa tangkapan layar lokapasar tentang atap bukan seng bukan genting terakota yang dijajakan di banyak lapak.

Atap sirap dalam foto saya jumpai sebagai penutup kuncung bangunan untuk tempat berwudu pada sebuah kedai masakan Sunda, Saung Sari Parahyangan, Jalan Kranggan, Jatisampurna, Kobek, Jabar. Bangunan utama di sana beratap sirap.

Saat itu saya membatin masih adakah bangunan agak baru, dalam arti kurang dari sepuluh tahun, di Jabodetabek yang menggunakan atap sirap? Sebelum ada lokapasar daring, pada akhir 1990-an saya masih melihat ada tempat yang menjual sirap di Mampang, Jaksel.

Atap sirap di Saung Sari Parahyangan, Kranggan, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Kini atap kian beragam, banyak yang ringan, banyak pilihan, tampaknya seiring pertumbuhan rangka atap baja ringan. Saya mengandaikan atap sirap di Jawa itu mahal karena barangnya bukan dari Kalimantan.

Di Jogja dulu banyak bangunan beratap sirap, termasuk di kampus. Konon sirap rentan api, maka ketika atap sebuah gedung PTN terbakar pada 1980-an ada yang bilang itu gara-gara mercon sreng yang mirip roket. Mungkin cuma rumor.

Atap tradisional di Tokopedia — Blogombal.com

Hotel modern beratap sirap, namun kemudian direnovasi seingat saya Putri Duyung Cottage Ancol, Jakarta, dan Novotel Bogor. Di TMII tentu ada sejumlah bangunan tradisional bersirap.

Lalu selain sirap apa? Rumbia dan ilalang. Di lokapasar banyak yang menjual. Versi sintetis dari Tiongkok pun ada. Dari sisi estetika dan eksotika bagus asalkan padu padan dengan desain bangunan klop. Salah satu bangunan modern dengan atap rumbia yang bagus adalah rumah makan De’ Leuit, Baranangsiang, Bogor, Jabar. Ikatan daun atap terlihat dari dalam ruang saat pengudap mendongak. Atap dari ijuk, ilalang, rumbia, dan lainnya juga bisa sekadar tempelan di atas atap yang kuat.

Atap tradisional di Tokopedia — Blogombal.com

Memang atap macam itu mahal, belum lagi perawatannya. Pemilik bangunan sudah menghitung semuanya. Lalu bagaimana dengan atap seng, maksud saya termasuk aneka variannya? Risiko bocor selalu ada, pada genting terakota sampai atap dak beton. Lebih penting Kementerian PU menyebarluaskan pedoman pemasangan genting seng dan atap pelat lainnya, dengan kelengkapan pendukungnya, termasuk insulasi yang dapat disusulkan untuk menyiasati biaya.

Di media sosial, para arsitek dan produsen atap juga dapat berbagi info macam itu. Pemerintah tak perlu berniat mengganti atap seng secara massal. Dulu masyarakat mengenal atap seng antara lain karena pemerintah kolonial tak suka atap ijuk, ilalang, dan rumbia.

Halah gentengisasi — Blogombal.com

Apakah atap seng atau jenis baru lainnya kurang estetis? Lihat saja di kompleks Keraton Jogja: selain atap sirap juga ada atap seng jenis baru, meneruskan yang dulu. Sebaiknya pemerintah mengurusi hal lain yang lebih wigati: penegakan hukum dalam tata ruang dan PGB pengganti IMB.

Pedoman bangunan hunian sehat yang dulu, jauh hari sebelum era media sosial dibikin Kementerian PU, misalnya ventilasi, kurang bergema di masyarakat. Saat pandemi Covid-19 barulah sebagian masyarakat ingin tahu.

Perbedaan IMB dan PGB - iNews — Blogombal.com
Perbedaan Izin Mendirikan Bangunan dan Persetujuan Gedung Bangunan dalam artikel di iNews (2021).

2 Comments

Junianto Jumat 13 Februari 2026 ~ 22.09 Reply

Pak Macan Sawit itu memang lebay!

Tinggalkan Balasan