
Ada beberapa tempelan kertas di warung sebelah RS Mitra Keluarga Jatiasih, Kobek, Jabar, itu. Intinya mengingatkan orang yang memarkir sepeda motor di sana untuk berkomunikasi dengan pemilik warung. Jangan asal taruh motor lantas berlalu.
Mungkin maksud pemilik warung agar semuanya jelas. Misalnya tiba-tiba ada orang yang tak berhak datang untuk mengambil motor maka orangnya bisa ditandai.

Saya sempat menduga mungkin resminya halaman warung itu tak menyediakan layanan parkir. Namun ternyata pada pintu samping warung ada poster tarif parkir motor.
Lalu kenapa orang parkir di sana? Tarif parkir motor di rumah sakit itu mahal, dihitung per jam. Kalau pemarkir sampai di gerbang pembayaran lima menit setelah satu jam pertama akan dihitung dua jam. Padahal menunggui orang di rumah sakit bisa lama.

Jangankan mobil, urusan parkir motor itu tak mudah. Lihat saja di dekat stasiun, terminal, halte, dan titik keberangkatan bus umum maupun jemputan. Selalu ada tempat penitipan motor. Begitu pun di luar mal tertentu, para pegawai toko memarkir di area warga dengan membayar lebih murah. Motor terus bertambah, area parkir makin terbatas. Apa solusinya?


5 Comments
Betooollll 🫣
Kalau Pak Ndobos itu ahlinya manuk kalcer.😁
Pelik, Paman. Yang saya lihat, banyak orang yang kini berada dalam mode bertahan hidup. Dalam mode begini saya sangsi kalau mereka peduli soal etika.
Saya mencoba menyangkal itu. Dua hari lalu saya ikut aturan untuk parkir di sebuah tempat tapi ternyata terhalang mobil depan yang parkir di jalur masuk. Padahal area depannya kosong. Mobil lain dapat parkir karena masuk dari pintu keluar. Saya panggil satpam, dia angkat tangan, “Terserah Bapak aja deh.”
Saya bilang ke istri, “Kita tertib, ikut aturan, malah dirugikan.”
Betooollll 😅