
Pagi tiga hari lalu, dari kamar atas istri saya yang masih lemah mencoba berseru, “Itu bau apa ya, Mas? Ada yang gosong atau kebakar?”
Saya dari teras depan segera ke dapur. Waduh! Air dalam panci untuk mengukus sudah asat, habis. Ada ubi, jagung, telur, labu siam, wortel, dan pisang tanduk di sana. Untung ketahuan.
Ini masalah saya: mulai pelupa. Lalu saya cari timer berbentuk jeruk di rak dapur. Ternyata sudah rusak. Setahu saya barang itu tak pernah digunakan. Maka dia saya buang ke kantong sampah. Artinya sekian tahun tanpa alat penghitung waktu mundur (countdown), orang rumah yang akrab dengan dapur tak ada masalah dengan waktu.
Timer lainnya, yang nyeni dan tak saya pakai di dapur, malah menghiasi meja kerja di kantor terdahulu, juga sudah rusak. Saya beli bukan untuk dapur. Hanya untuk iseng karena terpesona desainnya.

Esok harinya saya memakai ponsel untuk timer. Berhasil. Tetapi tak nyaman karena saya harus selalu dekat ponsel. Lagi pula timer hanya berbunyi sekali, sebentar, berbeda dari alarm yang terus cerewet.
Akhirnya saya memesan timer yang ada magnetnya. Harganya Rp32.000. Lalu alat itu saya tempelkan pada dinding kompor gas tua yang berusia hampir seperempat abad itu. Timer berfungsi dengan baik. Suara deringnya tak semerdu yang berdesain cantik.
Alat dapur mirip mainan akan menjadi mainan beneran dan cepat rusak 🤣 pic.twitter.com/Fodo1YifsU
— Gambar Hidup (@gbrhdp) June 14, 2022
Jadi, apa sebenarnya masalah saya? Pelupa dan tak dapat memperkirakan waktu. Padahal jika menyangkut api hal ini berbahaya. Ada saja kasus orang lupa sedang menyalakan kompor. Oppung dekat rumah tertidur sore saat memanaskan masakan. Lalu asap keluar dari ventilasi dapur. Saya dan seorang bapak muda menggedor pintu membangunkan oppung dan mencari jalan masuk.
Saudara saya di Bandung meninggalkan kompor menyala saat pergi ke gereja. Untunglah tetangga bisa memecah kaca jendela dapur dari arah carport untuk memadamkan api.
Cukupkah timer analog karena saya menggunakan kompor gas, bukan kompor listrik? Saya termasuk mudah serrrr… tertidur. Jadi mungkin saya perlu detektor asap dan alarm.


9 Comments
Setelah melihat foto ini saya baru sadar kalau timer itu bisa ditempel di kompor 😅😅😅
Karena terbiasa menempel magnet kulkas, saya jadi berasumsi bahwa timer dapur itu buat ditempel di kulkas juga.
Kulkas adalah majalah dinding serbaguna kita. Dalam gambar peraga pelapak, timer bermagnet juga ditempel di pintu kulkas.
Saya merasa makin pelupa, kalau memasak sesuatu pasti pakai pengingat waktu di ponsel, saya pencet sebuah nomor kontak tapi langsung stop agar muncul angka jam tapi tidak sampai jadi missed call. Tapi “timer” saya itu tanpa suara kudu ditengok terooos.
Saat mau tidur siang juga begitu, agar tahu berapa lama tadi saya tidur.
BTW mengapa bulik eh tante masih lemah?
Lho, ponsel sebelum era smartphone kan ada jam, timer, dan stopwatch?
Untuk penggemar arloji analog kronograf, yang quartz maupun automatic, versi murah juga punya stopwatch.
Saya gak suka kronograf karena banyak tombol dan terlalu menarik perhatian, lagi pula fungsi selain jam dan kalender gak saya perlukan. Emang jam pilot dan diver Itu banyak yang keren tapi buat apa kalo fungsi pelengkap gak kita pakai. Juga buat apa kalo sekumpulan orang berarloji bagus kalo rapat dan bikin acara selalu pake jam karet
Nyonya belum fit setelah dua hari di IGD karena ICU penuh, lalu diungsikan ke RS sejauh 40 km yang ICU sedang ada ranjang kosong, di sana hampir sepekan lalu karena ruang rawat inap penuh terus disuruh pulang langsung dari ICU
Wolhaaa, sakit apa?
Semoga sehari sehat dan tidak lemah lagi!
Yah gitu deh 🙏
Kompornya sudah tua tapi awet dan bersih, Bang Paman. Semoga timer anyar awet yak 🙂
Terima jadi, Mbak Mpok 🙏
Merek kompornya terdengar buatan Indonesia: Sanusi 🤣