
Seperempat abad sudah nasi goreng gila menjadi lumrah. Intinya sih nasi goreng pedas banget, kadang dengan MSG berlebihan sehingga menyengat lidah dan tenggorokan. “Gila! Pedes abis tapi enaaakkkk!”, konon komentar itulah menjadi asal muasal nama.
Di sekitar saya ada beberapa penjual nasgor gila. Lalu ada yang baru di kampung Bulaktinggi, Jatiwarna, Pondokmelati, Kobek, Jabar: nasgor gila modern. Uh, macam apa pula? Saya belum mencicipi karena sejauh ini tak berminat.

Saya tak tahu apanya yang modern dan bagaimana rasa khasnya sehingga dapat dibedakan dari gila klasik. Pada 2015 saya membuat pos tentang gerobak nasi gila, tanpa kata goreng, dengan penjelasan:
Saya tak tahu dari mana nasi gila datang. Saya mengetahuinya awal 2000-an di Jalan Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat. Sejumlah penjual menamai dagangannya nasi gila dan saya tak tahu siapa yang paling gila.
Apakah di dekat rumah Anda, di mana pun kotanya, juga ada nasgor gila? Kalau banyak orang suka berarti….

4 Comments
… berarti memang gila. Nasi gorengnya. 😀
Nah! 🤣🤣🤣🤣🤣
Ohh disebut gila itu karena pedas tho? Saya kira karena porsinya besaaar dan lauknya campur2 banyak, Bang Paman.
Memang gila 🤣