Dari piring ke tatakan kertas KFC: Soal ingatan dan kesadaran

Hanya dari kertas tatakan nasi dan lauk, benak saya merambat ke hal lain yang bagi Anda pun sepele.

▒ Lama baca 2 menit

Sejak kapan persisnya KFC mengganti piring dengan tatakan kertas? — Blogombal.com

Lebih dari sekali saya menulis seputar KFC di blog wagu ini. Tentu tak berarti sejak dulu saya kerap mengudap di sana. Tetapi kemarin saat mengudap di sana saya mencoba mengingat kapan ya KFC mulai memakai wadah kertas pengganti piring. Ingatan saya mulai pudar.

Bahkan baru kemarin saya sadar bahwa jilbab pramusaji berlogo besar KFC padahal sudah lama saya tahu bahwa pria kedai itu berbandana kain berlogo KFC.

Lalu saya cari arsip di blog ini adakah foto piring KFC. Aha! Saya temukan. Ada dalam pos NPL (Nemu Posting Lawas), “Ambil sambal dengan bumbu loba kalap (2013)“, Mei 2022, membahas tulisan 2013, “Gratis saja boleh ambil banyak, apalagi bayar“.

Payah, saya lupa bahwa dalam NPL tersebut saya menulis:

Saya lupa sejak kapan KFC menerapkan saset saus sambal dan saus tomat untuk menggantikan dispenser tekan. Foto ini saya buat pada 2013, seingat saya di KFC Bulungan, bukan Melawai, Jaksel, dengan kamera saku, men-zoom pol, ke meja di sudut lain. Ada sepiring saus cabai yang dibiarkan tersisa banyak. Di meja sebelah saya dan di depan saya juga begitu. Tapi para pengudapnya belum pergi.

Artinya saya lupa bahwa saya pernah menyatakan kelupaan saya. Ya, kalimat barusan mirip jurus Cak Lontong: bermain kata dalam berkalimat. Bedanya, Cak Lontong itu jenaka sedangkan saya tidak. Merasa humoris pun saya tak pernah.

Sejak kapan persisnya KFC mengganti piring dengan tatakan kertas? — Blogombal.com

Dalam NPL tadi saya menulis “Sebenarnya ini bukan soal banyak orang suka sambal melainkan pekerti: ambillah secukupnya, seperlunya.”

Tentu hari ini persoalannya tetap sama. Ada sih kemajuan, kini makin banyak pengudap membersihkan mejanya sendiri, membawa baki ke kotak buang. Semoga ada yang memeriksa setruk adakah pos servis selain pajak. Di Starbucks seingat saya tak ada biaya layanan.

Satu lagi yang saya lupa, sejak kapan dispenser saus KFC hanya menyediakan sambal, padahal dulu ada juga untuk saus tomat? Saya benar-benar lupa sejak kapan saset saus tomat, bukan saus cabai, harus kita minta.

Apakah konsumen lebih membutuhkan sambal ketimbang saus tomat berbahan pepaya itu? Lebih mahal yang mana dari keduanya sehingga kedai akhirnya secara default hanya menyediakan sambal?

Dulu saya pernah ingin tahu angka penghematan kedai dengan memakai tatakan kertas. Piring porselen itu berat, repot mencucinya, bahkan misalnya dengan mesin pencuci piring pun tetap repot menyimpannya setelah kedai tutup untuk buka lagi esoknya. Belum lagi soal piring pecah dan masa pakai. Sekarang saya tak ingin tahu. Saya yakin tatakan kertas lebih ekonomis.

Mungkin Anda membatin, halah ginian aja dibahas. Baiklah. Ini memang soal remeh. Bagi saya juga remeh kok. Namun ada hal yang menarik bagi saya: banyak perubahan dalam kehidupan kita yang tak kita ingat kapan persisnya terjadi. Semuanya alami adanya.

Kalau kita terlupa sesuatu, kini AI akan mencari rujukan yang baginya andal untuk menjawab. Saya termasuk orang yang percaya bahwa akal imitasi akan makin pintar. Apakah semua dan setiap penggunanya juga makin pintar, itu kita diskusikan lain waktu saat mengantuk.

Dulu saya pernah pongah, dan memalukan, menganggap blog ini bagian dari sumbangsih saya terhadap penulisan sejarah keseharian orang biasa. Sehingga di Bonn, saat menerima penghargaan dalam Global Media Forum oleh Deutsche Welle, pada 2010, secara sembrono saya bilang bahwa ngeblog itu writing the history of ordinary people. Halah. Untunglah sejauh saya tahu tak ada yang bilang, “Nd**mu!”

Padahal ternyata yang saya lakukan hanya untuk kepentingan saya, yang dalam lagu menjemukan tetap mengulang pesan untuk merawat ingatan saya sendiri, mengerem amnesia dan demensia. Tetapi dalam kasus tatakan kertas KFC telah terbukti bahwa ingatan saya tak berhasil saya rawat sepenuhnya.

Ehm, kita tahu bahwa dalam kehidupan ini tak semua hal harus kita ingat, antara lain justru untuk kesehatan mental kita. Perlu ada tombol dalam benak kita untuk flushing dan membuang tembolok atau cache. Tetapi untuk urusan ini pun saya masih harus terus belajar. Ini bagian dari merawat kesadaran — dan juga kewarasan.

5 Comments

morishige Minggu 8 Februari 2026 ~ 19.08 Reply

Jadi sassus bahwa saus tomat itu berbahan pepaya benar adanya, Paman? 😀

Soal ingat mengingat ini, saya rasa wajar saja kalau akhirnya yang di-flush, barangkali, adalah ‘false memory’. Bukankah yang diserap ingatan itu cuma persepsi manusia tentang sesuatu? Lagipula, di masa depan, jikalau berhasil merekoleksi kejadian ‘sebenarnya’ dengan bantuan bukti-bukti atau orang-orang yang juga mengalaminya, barangkali, ‘false memory’ itu bisa dikoreksi. Seru juga itu kayaknya melihat perjalanan ‘mengingat’.

Pemilik Blog Senin 9 Februari 2026 ~ 17.50 Reply

#1: coba cek ingredients pada label kemasan, juga pada kaleng sarden 😂

#2: wah filosofis ini, sci-fi dan neuroscience bisa memperkaya kisah 😇

Junianto Sabtu 7 Februari 2026 ~ 05.55 Reply

Kemarin saya ketemu pria kenalan sangat lama (kenal sejak sekitar 46 tahun silam), sudah puluhan tahun tidak bersua, tapi saya masih ingat namanya, ingat dia pernah kirim surat ke saya, tapi kemarin itu dia lupa ke saya. Saya ajak ngobrol, dia pangling siapa saya. Sampai saya tinggal pergi, dia tampak asing dengan saya

Sebulan lalu saya ketemu seorang ibu staf Humas sebuah PTS. Saya merasa tidak kenal, tapi dia bilang pernah sowan saya (ya, pakai kata sowan) saat saya masih bekerja memimpin tim redaksi sebuah media online di Solo sekitar 8 tahun silam. Dia juga bilang pernah ke warung makan istri saya bersama pimpinan kampusnya, dan saya ikut menemani istri mengobrol dan foto bareng dengan ibu itu dan bosnya. Saya lupa sama sekali!

Ingatan yang membagongkan : yang sudah berlalu 46 tahun saya masih sangat ingat, yang baru 8 tahun saya sudah lupa.

Pemilik Blog Sabtu 7 Februari 2026 ~ 10.08 Reply

Long term memory itu bisa menjadi residu dalam benak. Maka kita ingat nama lengkap seorang teman di SD, tapi lupa nama teman anak kita yang kita kenal minggu lalu.

Masalahnya LTM apalagi STM (short term memory) tiap orang berbeda.

Anehnya jika menyangkut nama kita atau ibu dan kakak adik kita, ada efek koktail. Begitu ada yang menyebut nama kecil kita di tengah suasana orang ngobrol, kita langsung menoleh. Kiat ini juga dipakai reserse saat memepet buron, cuma manggil nama kecilnya padahal si buron sdh ganti nama, ganti KTP, ganti paspor, bahkan operasi wajah.

Tinggalkan Balasan