
Jurnalis Budiman Tanuredjo (62) dalam MemoBDM melaporkan soal keuangan Januari 2026, hasil urun dana (crowdfunding) pembaca. Bagi saya ada hal yang lebih menarik dari laporan sebagai bentuk pertanggungjawaban BDM, inisialnya di Kompas, yakni penggalangan dana publik, tanpa pelantar khusus, cukup mentransfer ke rekening bank.
Saya berani menghakimi bahwa monetisasi blog bukanlah tujuan dirinya. Dia memang ingin terus menulis, karena hal itu memang kesukaan dia sebelum menjadi karyawan Kompas Gramedia.
Semasa kuliah di jurusan teknik nuklir UGM, Jogja, dia suka menulis, ikut paduan suara gereja, dan pernah menjadi mentor pelatihan jurnalistik untuk LSM, dengan peserta dari pesantren sampai LBH.

Dia tidak bisa diam. Semasa muda cara berjalannya termasuk cepat, tegak agak ndêgèg, namun jarak dari belakang Taru Martani, Baciro, ke indekosnya di utara Mrican, Jogja, hampir empat kilometer, dia tempuh tanpa terengah. Setelah tua, di sela gelaran maraton, dia wawancarai Ganjar Pranowo, masing-masing berpakaian lari.
Saya tak tahu kapan persisnya dia sadar untuk memanfaatkan posisi sosial dirinya, sebagai orang tenar terutama setelah menjadi sahibulbait Satu Meja di Kompas TV, untuk melakukan hal baik dalam bentuk berbeda bagi orang lain, tak hanya bantuan darurat untuk anak seorang wartawan.
Tulisan BDM itu bernas, tajam menguliti masalah tanpa nada sinis sengak apalagi sarkastis, perpaduan gaya dirinya dan Kompas, koran tempat dia pernah menjadi pemimpin redaksi dan wakil pemimpin umum. Dia pula yang turut menggemakan sebutan dari Alois untuk Buya Ahmad Syafii Maarif: muazin bangsa.
BDM pernah ikut seleksi capim KPK namun hanya lolos sampai tahap lulus uji administratif. Ibarat tato, masalah etika kekuasaan dan penegakan hukum serta keadilan terajahkan pada kulit raganya. Semoga tato kiasan itu tak enyah tersebab laser dermatologis kekuasaan.
Lalu apa masalahnya dengan menulis dan monetisasi sehingga saya bahas? Di sejumlah grup WhatsApp bekas wartawan, maupun dalam obrolan, banyak yang lebih asyik membahas manfaat ekonomis dari membuat konten oleh orang lain namun mereka tak kunjung memulai untuk diri sendiri, padahal mereka bilang ingin. Terutama kalau banyak yang membaca atau menonton, dan menghasilkan cuan.
Padahal jika konten itu bukan video, melainkan tulisan, mestinya lebih mudah karena mereka pernah menjadi jurnalis sampai berkarat. Ada beberapa yang mengatakan tak tahu harus membahas apa saja dalam usianya sekarang. Bahkan ada yang gamang saat akan memulai paragraf pertama. Tetapi dalam WhatsApp mereka lancar bercerita bahkan berbagi foto dan video hasil kerja ponselnya.
Tentu menulis tak hanya dalam pelantar blog, apalagi self-hosted blog. Bisa dilakukan di semua pelantar berbasis USG (user generated content) mana pun, dari Facebook, Medium, hingga Substack. Untuk video juga ada Facebook, YouTube, Instagram, hingga TikTok. Di TikTok kita lihat banyak nian orang tak berlatar media mudah berkonten, dari menggunakan ponsel low end sampai memanfaatkan hasil AI generatif.
Seorang bapak muda, usia 40+, pernah bekerja di media, tetapi bukan wartawan, kini pengurus RT, pernah mengatakan kepada saya, bahwa para pensiunan wartawan sepuh telaten menulis panjang di grup WhatsApp, membahas berita ini dan itu, sambil mengenang hal dan hil semasa masih bekerja, tetapi sebagai aktivis Facebook tak menulis panjang.
Saya bilang, orang tua, termasuk saya, hanya memiliki masa lalu. Tetapi kini menulis untuk publik itu beban karena semasa bekerja mereka melihat opini terbuka, yang terarsipkan dengan baik, itu jatahnya kolumnis dan penulis tajuk rencana. Padahal menulis untuk diri sendiri, yang dapat dibaca oleh khalayak ramai maupun senyap, tak harus berisi hal serius analitis. Cukup dilakukan dari ponsel. Apalagi kalau cuma hehahehe gojègan kéré horé.
¬ Sumber foto untuk judul dari Back to BDM

7 Comments
Tetaplah ngeblog, Bang Paman.
Soale untuk pidato omon-omon sudah ada jagonya hehehe glek 🙁
Hahaha. Ledekan Mbak Mpok menghibur saya 🤣🫣
Peran uang dan tenggat memang dahsyat kayaknya, Paman. Nulis tanpa insentif mungkin kurang atraktif.
Wajar, kan? 🙏💐😇
Wah, saya jadi tahu banyak tentang bdm, Paman👍
Nambah sedikit ya. Seorang kawan SMA bdm di Solo, yang saya kenal, pernah berkisah bahwa dia diberi uang Rp 1 juta saat bdm berkunjung ke Solo. Itu kisah yang sudah sangat lama, jauh sebelum pandemi.
Lebih penting pensiunan wartawan tetap menulis 🫣
Baiklah….