
Aduh. Rasa sakit di penggiran jari kelingking kaki kanan langsung terasa setelah terhunjam ujung penggaris besi yang jatuh tersenggol kotak. Luka, berdarah. Tetapi pikiran saya malah ke berita tawuran pelajar. Tidak digerinda saja bisa melukai, apalagi jika tepi dan ujung mistar ditipiskan, menjadi lebih tajam.
Medio 1990-an saya membaca Media Indonesia, seorang ayah dalam beberapa bulan akhirnya bisa menangkap seorang pelajar yang menusuk anaknya dalam tawuran sehingga korban tewas, lalu menyerahkannya kepada polisi. Saya lupa, apakah pelaku menggunakan pisau ataukah mistar. Tetapi dalam setiap tawuran dan razia selalu ada mistar yang diasah.
Aneh, berangkat sekolah kok berbekal senjata. Untuk anak STM atau SMK teknik tentu penyebabnya bukan karena di sekolah ada bengkel praktik. Ini masalah sosial, bukan soal kreativitas swakriya. Bloger Dedi Dwitagama yang pernah menjadi kepala SMK lebih paham masalahnya.

Lalu urusan mistar saya? Saya terpaksa menggunakannya karena mistar plastik sudah saya potong untuk memperbaiki pintu freezer. Mistar besi saya pakai di tembok karena tak punya jangka untuk memastikan posisi 12 titik penanda waktu di luar lingkaran piringan mesin jam dinding.

Mesin jam dinding, dengan jarum bengkok, saya temukan di laci, tanpa kertas panduan tempel, untuk menggantikan jam dinding berpendulum yang rusak (gambar atas). Tak terlalu mudah menempelkan stiker dot hitam yang saya beli di lokapasar, karena posisi cantelan mesin bukan di tengah piringan. Jadi, saya harus membuat garis lingkar berdasarkan piringan, lalu menetapkan jarak luar setelah menemukan titik tengah, sambil berdiri di atas tangga. Repot tapi puwassss…


2 Comments
Kreasi jam sendiri ini, Bang Paman.. 👍
Dulu ada orang meledek saya “sok kéré aktif”, bukan sok kreatif 🫣🙈